WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

20 Feb 2026 • Admin

Kiblat Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf

Catatan Pengajian 1 Ramadhan 1447 H Al-Ashkhabiyyah – Maqbaroh Mbah Ahmad (Dempok) Oleh: Seorang Murid yang Mendengarkan dengan Penuh Adab Kiblat Tauhid Ahlussunah wal Jama’ah Dalam bab aqidah, guru kami menegaskan bahwa kiblat tauhid Ahlussunah wal Jama’ah adalah dua imam besar: Abu al-Hasan al-Ash’ari Abu Mansur al-Maturidi Keduanya adalah penjaga manhaj tauhid umat, yang merumuskan aqidah berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para salaf. Dalam bab fiqih, Ahlussunah wal Jama’ah berpegang pada empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Adapun dalam tasawuf, kiblatnya adalah: Junayd al-Baghdadi Abu Hamid al-Ghazali Dan salah satu mahakarya Imam al-Ghazali yang menjadi rujukan besar umat adalah: Ihya Ulum al-Din Konsep Beragama: Tiga Tangga Menuju Allah Guru kami menyampaikan bahwa dalam beragama, seorang hamba harus menapaki tiga tangga: Syariat Tarekat Hakikat Kitab Ihya’ disusun selaras dengan perjalanan ini. Di dalamnya terdapat empat juz besar: 1️⃣ Juz Pertama – Rubu’ al-‘Ibadat (Fiqih Ibadah) Imam al-Ghazali menjelaskan kewajiban beragama secara fiqih: thaharah, shalat, zakat, puasa, haji, dan adab-adabnya. Beliau menegaskan bahwa ibadah lahir harus benar secara hukum. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Innamal a‘maalu bin niyyaat, wa innamaa likulli imri’in maa nawaa.” Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj) 2️⃣ Juz Kedua – Rubu’ al-‘Adat (Muamalah) Membahas adab kehidupan: makan, nikah, mencari nafkah, bertetangga, dan kehidupan sosial. Dua juz pertama ini menggabungkan antara ibadah mahdhah dan kehidupan sehari-hari, sehingga agama tidak hanya di masjid, tetapi juga di pasar dan rumah. 3️⃣ Juz Ketiga – Rubu’ al-Muhlikat (Perkara yang Merusak Hati) Di sini dibahas penyakit hati: Sombong (kibr) Iri dengki (hasad) Riya’ Hubbud dunya Ujub Allah berfirman: “Yaauma laa yanfa‘u maalun wa laa banuun, illa man atallaha biqalbin saliim.” Pada hari tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89) 4️⃣ Juz Keempat – Rubu’ al-Munjiyat (Perkara yang Menyelamatkan) Setelah hati dikosongkan dari sifat tercela, maka ia diisi dengan sifat-sifat terpuji: Ikhlas Tawakal Syukur Sabar Mahabbah Inilah tahap penyucian hati yang sesungguhnya. Takhalli, Tahalli, Tajalli Guru kami menjelaskan: Jika juz 1, 2, dan 3 dilakukan maksimal → itu takhalli (mengosongkan diri dari keburukan). Juz 4 → itu tahalli (menghiasi diri dengan kebaikan). Jika semuanya istiqamah, maka tinggal menunggu karunia Allah → tajalli (tersingkapnya cahaya ma‘rifat). Namun beliau memberi peringatan keras: Jika seseorang tidak menapaki tahap 1-2-3-4 tetapi mengaku sudah mengalami tajalli, maka tidak ada jaminan itu dari Allah — bisa jadi tipu daya jin. Ini adalah teguran keras agar murid tidak tertipu oleh rasa atau pengalaman batin yang tidak dibangun di atas syariat. Fiqih dan Tasawuf Tidak Boleh Dipisah Guru kami KH Masda Andi dawuh: Ruhul jasmani ada pada daging dan darah, dan dibebani syariat. Artinya, selama jasad masih hidup, hukum fiqih tetap berlaku. Beliau juga menegaskan: “Orang bertasawuf belum tentu berfiqih. Tetapi orang yang benar-benar berfiqih, sejatinya sudah memasuki tasawuf, karena sebelum ibadah ada niat. Dan niat tempatnya di hati — itu wilayah tasawuf.”sing Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Alaa wa inna fil jasadi mudhghah, idzaa shaluhat shaluhal jasadu kulluh, wa idzaa fasadat fasadal jasadu kulluh, ألا وهي القلب.” Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati. (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj) Maka orang yang mengaku tasawuf tetapi belum memahami fiqih, itu belum sempurna jalannya. Sebaliknya, fiqih tanpa tasawuf akan kering dari ruh. Penutup: Agar Tidak Gumunan Guru kami menyampaikan ini agar kami tidak “gumunan” melihat orang yang tampak alim atau tampak memiliki pengalaman batin. Ukuran kebenaran bukan pada rasa, bukan pada penampakan, bukan pada cerita-cerita tajalli. Tetapi pada: Aqidah yang lurus Fiqih yang benar Hati yang dibersihkan Adab kepada guru Dan istiqamah dalam syariat Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang berjalan perlahan namun benar, tidak tergesa-gesa mengaku sampai, padahal belum menapaki tangga pertama. Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba‘ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnajtinaabah.

20 Feb 2026 • Admin

Ihya’ ‘Ulumuddin Juz 1 – Ngurip-urip Ramadhan dengan Siyam dan Shoum

Pengajian 1 Ramadhan 1447 H Ihya’ ‘Ulumuddin Juz 1 – Ngurip-urip Ramadhan dengan Siyam dan Shoum Al-Ashkhabiyyah – Maqbaroh Mbah Ahmad (Dempok) Bersama guru kami, KH Masda Andi Alhamdulillah, malam pertama Ramadhan 1447 H kami diparingi kesempatan sowan ngaji Ihya Ulumuddin juz 1, karya agung Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali. Kulo nyerat punika minangka murid ingkang namung saged lungguh, mirengaken, lan nyimak kanthi adab. Mugi boten dados slogan, nanging dados suluh laku salebetipun wulan Ramadhan. Ngurip-urip Ramadhan Menuju Ridho Ilahi Guru dawuh, rasa syukur punika boten cekap wonten ing lisan. Ramadhan kedah diurip-urip, boten namung dipun sebut. Ngurip-urip tegesipun: diamalaken, dipun rasakaken, dipun jaga tekan akhir. Beliau ngendika kanthi guyon halus nanging teges: “Cuma kelas siyam abot gawe bersino ati.” Tegese, siyam (puasa lahir) sampun abot. Nanging yen pengin ngresiki ati, punika kedah langkung saking namung nahan lapar. Bedane Siyam lan Shoum Guru nerangaken bilih wonten bedane makna siyam lan shoum, kados ing dawuh Allah Ta’ala wonten ing: “…Inni nadzartu lir-Rahmani shouman falan ukallima al-yauma insiyyan.” (QS. Maryam: 26) Ing kisah Sayyidah Maryam, tembung ingkang dipun ginakaken punika shouman, lan tafsire para ulama: menahan bicara. Ringkesan dawuh guru: Siyam → nahan mangan, ngombe, syahwat. Shoum → nahan lisan, nahan diri saking tutur, saking hal-hal ingkang boten perlu. Beliau ngendika kanthi senyum: “Nek jenengan benjeng mangan rokokan niatono shoum…” (Disusul tawa jamaah) Geguyon punika ngemu piwulang: menawi namung siyam lahiriyah, punika saged dipun lakoni kathah tiyang. Nanging shoum batin, nahan lisan, nahan ego, punika langkung abot. Nalika ditakoni: “Abot pundi, shoum nopo siyam?” Jamaah matur: “Shoum.” Penjelasan Ihya’ ‘Ulumuddin tentang Tingkatan Puasa Ing Ihya’ juz 1 (Kitab Asrar Ash-Shiyam), Imam Al-Ghazali Maka dawuh guru selaras kaliyan Ihya’: Siyam lahir punika pondasi. Nanging tujuanipun punika shoum batin. Hadits-Hadits tentang Hakikat Puasa (Lengkap) Beberapa hadits yang juga dibahas dalam Ihya’ terkait makna puasa: 1️⃣ Puasa bukan sekadar lapar Rasulullah ﷺ bersabda: “Man lam yada‘ qawla az-zur wal ‘amala bihi falaysa lillahi hajah fi an yada‘a tha‘amahu wa syarabah.” (HR. Bukhari) Artinya: Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. ➡️ Ini adalah ruh shoum, bukan sekadar siyam. 2️⃣ Banyak yang berpuasa tapi hanya dapat lapar “Rubbā shāimin laysa lahu min shiyāmihi illal jū‘ wal ‘athasy.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah) Bisa jadi orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus. ➡️ Ini peringatan agar siyam ditata menuju shoum. 3️⃣ Puasa sebagai perisai “Ash-shaumu junnah.” (HR. Bukhari & Muslim) Puasa adalah perisai. Perisai saking napa? Saking syahwat, saking maksiat, saking api neraka. Nanging menawi perisai punika bolong dening lisan, maka boten sampurna. Dawuh Guru yang Tegas Beliau paring wanti-wanti: “Yang saya terangkan jangan ditelan mentah-mentah.” Puniko adab ilmiah. Ilmu kedah dipun telaah, dipun tadabburi, boten namung dipun banggakaken. Beliau ugi ngendika: Allah Maha Pirsa, Nabi ugi pirsa. Menawi umat langsung diniati shoum, mboten kuat. Maka diniati siyam rumiyin, supados shoum saged ditata sethithik-sethithik. Puniko hikmah tarbiyah: Syariat lahir → latihan Hakikat batin → tujuan

05 Feb 2026 • Admin

Jam’iyah Dirumat, Bukan Dituntut (Nikmat Berada Dikerambah Al-Wilayah)

Dalam perjalanan jam’iyah, amaliah bukanlah alat untuk menilai satu sama lain. Setiap murid berjalan dengan proses dan waktunya masing-masing. Sebuah dawuh guru yang disampaikan kepada jam’iyah mengingatkan hal ini dengan sangat jernih: “Masio gur poso sunnah yo wong jam’iyah tak tirakti. Ora gur tak nasehati.” Dawuh ini menegaskan bahwa guru memilih merawat, bukan menuntut. Amaliah adalah laku pribadi, sementara jam’iyah adalah ruang rahmah, bukan ruang perbandingan. Guru tidak kekurangan nasehat, tetapi menjaga agar jam’iyah tetap menjadi tempat yang aman untuk bertumbuh. Dalam suluk, sering kali pengaruh terbesar justru bekerja melalui keteladanan dan tirakat yang sunyi. Semoga jam’iyah senantiasa dijaga dalam adab, kesabaran, dan kasih, sehingga setiap murid dapat melangkah dengan tenang sesuai kadar dan kesanggupannya. Pesan yang diterukan kh masda andi ke group jam’iyah

02 Feb 2026 • Admin

Jalan Sunyi Para Pelayan “Pesan Menghujab Guru”

Guru dawuh dengan kalimat singkat, sederhana, namun menghantam tepat ke dasar kehidupan: “Sopo sing nglayani, akan dilayani” Kalimat ini bukan janji balasan manusia, bukan pula rumus dagang kebaikan. Ini adalah kaidah hidup, hukum ruhani yang bekerja diam-diam. Dalam tasawuf, siapa yang melayani dengan ikhlas, sejatinya sedang dilayani Allah melalui jalan yang tidak ia duga. Guru menegaskan: “Iki dudu janji balasan menungso Tapi kaidah hidup.” Artinya, khidmah tidak menunggu ucapan terima kasih, tidak berharap pengakuan. Ia bekerja seperti air: mengalir, membersihkan, lalu hilang tanpa nama. Khidmah Bukan Transaksi, Tapi Amal Sunyi Guru lalu menancapkan garis tegas: “Khidmat kui dudu transaksi, dudu golek pujian. TAPI IKI AMAL SUNYI sing dikerjakno kanti ikhlas” Di sinilah banyak orang gagal. Khidmah sering diseret ke wilayah pamrih: ingin dianggap, ingin disebut, ingin dihormati. Padahal, begitu khidmah dicampuri pamrih, ia turun derajat menjadi kerja biasa, bukan ibadah. Amal sunyi artinya: dikerjakan ketika tidak dilihat, tetap dilakukan meski tidak dihargai, dan dijaga meski hati diuji. Kaidah Ilahi yang Tak Terbantahkan Guru melanjutkan dengan keyakinan penuh: “Gak ono balasan kebaikan kecuali kebaikan……ayo ono sing arep mbantah ta…..” Ini bukan tantangan emosi, tetapi pernyataan iman. Dalam Al-Qur’an, kaidah ini sudah ditegaskan: hal jaza’ul ihsani illal ihsan. Siapa pun yang pernah hidup dalam dunia khidmah, tahu bahwa balasan kebaikan sering datang bukan dari manusia, tapi dari Allah dengan cara yang halus dan tepat waktu. Jalan Khidmah Itu Luas Guru lalu membuka pintu bagi semua orang: “Lek ora iso mulang ngaji, yo ewangono wong wong seng mulang ngaji” Ini pesan besar agar tidak ada alasan untuk tidak khidmah. Tidak semua orang bisa berdiri di depan, tapi semua bisa menopang dari belakang. Dalam tasawuf, orang yang membantu jalan ilmu sering mendapat bagian barokah yang sama, meski namanya tidak disebut. Luka yang Wajar dalam Khidmah Guru tidak memaniskan kenyataan. Beliau jujur: “Khidmah kui melelahkan Kadang gak dipuji Kadang ora dianggep” Ini suara pengalaman, bukan teori. Khidmah memang sering menguras tenaga dan hati. Namun justru di titik inilah keikhlasan diuji. Jika masih butuh dipuji, berarti khidmah belum selesai mendidik nafsu. Khidmah Tidak Pernah Sia-sia Guru menutup dengan pesan yang sangat dalam: “Tapi khidmah ora pernah bakal sio2 Apa yg hari ini terasa rendah, bisa menjadi sebab kemuliaan dimasa depan…..” Ini adalah janji ruhani, bukan motivasi kosong. Banyak kemuliaan besar lahir dari pekerjaan yang dulu dianggap remeh. Dalam dunia pondok, khidmah adalah ijazah tak tertulis—yang nilainya baru terasa ketika waktu sudah berjalan jauh. Dan guru mengunci dengan kalimat yang sangat jujur: “gak percoyo yo gpp, wong dasare gak pernah urip nang pondok.” Ini bukan merendahkan, tapi penanda pengalaman. Ada ilmu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah menghidupinya. Penutup: Jalan Sunyi Para Pelayan Ungkapan ini bukan untuk orang yang ingin cepat diakui. Ini untuk mereka yang siap hilang demi makna. Siap lelah tanpa tepuk tangan. Siap rendah tanpa kehilangan harga diri. Karena dalam kaidah Allah: yang melayani dengan ikhlas, akan dilayani dengan kemuliaan—pada waktu dan cara-Nya sendiri. Semoga kita diberi kekuatan untuk khidmah tanpa banyak bicara, dan diberi hati yang ridlo meski tak dianggap. Aamiin.

02 Feb 2026 • Admin

Membaca Suara Hati Guru: Antara Tanggung Jawab dan Welas Asih

Dalam dunia tasawuf, dawuh seorang guru tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia muncul dari rasa tanggung jawab, dari beban amanah, dan dari welas asih yang dalam kepada murid-muridnya. Tiga status berikut bukan sekadar opini, melainkan teriakan batin seorang guru yang sedang menjaga sanad dan masa depan ruhani murid. Guru kami dawuh: “Nek terjadi bedo pendapat/pandangan antara Ayah Ruhani(Guru) garo Ayah Jasad ( wong tuo kandung), maka utamakan Ayah Ruhani ( Guru ). Gak sependapat yo gak opo2, gak duso pisan” Secara lahir, kalimat ini sering disalahpahami sebagai menafikan orang tua kandung. Namun secara hakikat tasawuf, ini adalah penegasan wilayah: ayah jasad menjaga lahir dan dunia, ayah ruhani menjaga iman, adab, dan akhirat. Guru tidak sedang mengajak durhaka, justru sebaliknya: menyelamatkan murid dari kebingungan batin ketika dua suara hadir bersamaan. Tidak sepakat bukan dosa, karena yang diuji bukan lisan, melainkan adab hati. Ridlo Guru: Kunci yang Tak Terlihat Guru melanjutkan: “Ridlo seorang Guru bukan sekedar restu, melainkan pembuka pintu keberkahan sing njamin kehidupan ndunyo akherat.” Kalimat ini lahir dari pengalaman panjang guru dalam membimbing murid. Ridlo guru bukan seremoni, bukan formalitas, tetapi kunci ruhani. Banyak murid rajin ibadah namun hidupnya kering, bukan karena kurang amal, melainkan karena terputus adabnya. Lalu guru mengungkapkan kekecewaan yang sangat halus namun dalam: “Lah kok ono murid dikandani Guru gak percoyo, malah percoyo marang omongane wong liyo…..iso dititeni……” Di sini tampak hati guru yang sedang perih, bukan marah. Guru melihat murid yang sudah diberi nasihat langsung, namun lebih percaya suara luar. Ini bukan soal benar-salah, tetapi soal siapa yang dijadikan sandaran batin. Ucapan yang Berat: Tanda Cinta dan Amanah Puncaknya, guru menulis: “Sampek2 Guru kok ngucap nek gak percoyo potongen jentiku……” Kalimat ini tidak boleh dibaca dengan logika biasa. Dalam tasawuf, ini adalah sumpah tanggung jawab, bukan emosi. Guru sedang berkata secara batin: “Aku mempertaruhkan diriku demi keselamatanmu.” Beliau sendiri menegaskan maknanya: “Iki tanda tanggungjawabe Guru nang murid tur tanda welase Guru nang murid……dadio murid sing gak endoz…..” Ini adalah pesan terakhir yang sangat dalam: jangan jadi murid yang keras kepala, jangan menutup diri dari bimbingan, jangan menukar sanad dengan suara yang tidak jelas asal-usulnya. Dan guru menutup dengan doa: “Mugo2 oleh curahan barokahe Guru Guru…..aamiin” Doa ini menunjukkan bahwa meski hati beliau berat, yang keluar tetap doa, bukan celaan. Inilah akhlak guru sejati. Penutup: Pesan Diam yang Keras Jika dibaca dengan hati seorang murid, tiga status ini menyampaikan satu pesan besar: Guru sedang menjaga muridnya, bahkan ketika murid belum tentu mau dijaga. Beliau menulis bukan untuk dimengerti semua orang, tetapi untuk murid yang masih punya adab. Bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dititeni—direnungi, ditimbang dengan hati yang bersih. Semoga kami dijauhkan dari menjadi murid yang “endoz”, dan didekatkan kepada adab, ridlo, dan barokah para guru. Aamiin.

02 Feb 2026 • Admin

Datanglah kepada Guru, Ketika Hidup Menjadi Sumpek

Ada saatnya hidup terasa sumpek—bukan sekadar masalah lahir, tapi kegelisahan batin yang tak sanggup dituturkan kepada siapa pun. Pada titik itu, seorang murid tidak sedang membutuhkan nasihat ramai, melainkan hadirnya guru. Bukan untuk dihakimi, bukan untuk dipamerkan kesalehannya, tapi untuk ditenangkan ruhnya. Karena dalam jalan tasawuf, masalah bukan selalu untuk diceritakan, melainkan untuk dikembalikan ke asalnya. Guru kami pernah dawuh: “Kalau hidup kita merasa rupek atau ada masalah yang tidak bisa diceritakan ke orang. Maka cepat datanglah ke Guru.” Dawuh ini tidak berdiri di wilayah psikologi semata, tetapi masuk ke wilayah tarbiyah ruhaniyah. Guru bukan tempat curhat biasa, melainkan cermin batin, tempat ruh yang kusut diselaraskan kembali dengan sanadnya. Santri Bukan Milik Guru, Tapi Milik Sanad Dalam satu kesempatan, guru kami menegaskan dengan kalimat yang bagi orang awam terdengar keras, namun bagi murid justru penuh kasih sayang ruhani: “Njenengan kuabeh sing nang group iki, iku ora tak akoni dadi santriku.” Secara hakikat, ini bukan penolakan, melainkan pembebasan. Guru sedang memutus ketergantungan ego murid kepada figur lahir, agar murid tidak berhenti pada satu nama, satu sosok, atau satu majelis. Kemudian guru melanjutkan: “Njenengan kuabeh iku santrine Mbah Hasyim, Mbah Kholiq, Mbah Hakam, Habib Abdurohman bin Abdulloh bin Abdul Qodir Bil Faqih, Mbah Masruri Mughni Benda Sirsmpog, Mbah Ahmad bin Sa’id bin Armiya Pondok AtTauhidiyah Giren Tegal, Mbah Ghozin Bendo pare, Mbah Sa’dun pati, Gus Ali Blitar….dst…sampek ke atas. Aku iki mung coronge kyai-kyai,Mbah mbah, Gus Gus iku maeng.” Di sinilah letak hakikat tasawufnya. Seorang mursyid sejati tidak mengklaim murid, karena murid sejatinya adalah milik sanad, milik perjuangan para masyayikh yang panjang dan bersambung. Guru hanya corong—penyambung suara para wali, kyai, dan ulama yang telah lebih dahulu sampai. Ini adalah adab tinggi: guru tidak menaruh murid di bawah dirinya, tetapi mengangkat murid agar tersambung ke para pendahulu. Makna Hakikat: Merawat Sanad, Menghancurkan Ego Secara batin, dawuh ini mengajarkan bahwa: Guru bukan tujuan, tapi jalan Majelis bukan tempat bergantung, tapi tempat menyambung Santri sejati tidak merasa “punya guru”, melainkan punya tanggung jawab menjaga adab kepada seluruh sanad Maka ketika guru berkata “aku tidak mengakui kalian sebagai santriku”, justru di situlah murid diuji: apakah masih butuh pengakuan, atau sudah siap tunduk pada hakikat. Penutup: Adab Seorang Murid Sebagai murid, tidak pantas bagi kami menafsirkan dawuh guru dengan kepala kosong dan hati kotor. Yang pantas hanyalah menunduk, mengamalkan, dan menjaga adab. Jika hidup terasa rupek, datanglah ke guru. Jika ego terasa ingin diakui, ingatlah sanad. Jika ilmu terasa berat, luruskan niat. Karena guru sejati tidak menarik murid ke dirinya, tetapi mendorong murid kembali kepada Allah melalui jejak para kekasih-Nya.

26 Jan 2026 • Admin

Menemukan Aib dari Dawuh guruku

Bukan tentang ramai-ramai amal, bukan tentang siapa terlihat paling sibuk di jalan Allah, tetapi tentang jujur menghadapkan diri kepada-Nya. Bagaimana mungkin aku meminta kaya, sedang hidupku sendiri masih gemar bergelimang gemerlap. Bagaimana mungkin aku berdoa diluaskan rezeki, namun hatiku tak pernah merasa cukup. Apakah pantas aku bersedekah berlebih di jalan Allah, sementara dalam doa aku mengadu kekurangan di hadapan-Nya? Apakah pantas aku mengeluh, jika nikmat-nikmat kecil saja tak pernah benar-benar aku syukuri? Betapa munafiknya aku. Saat melakukan amaliah, hatiku diam-diam menunggu balasan. Saat berkhidmah, aku berharap dicatat. Saat bersungguh-sungguh, aku ingin diperhatikan. Aku berlindung di keramba al-wilayah, bernaung di bawah atap ashkhabiyyah, namun jiwaku masih sibuk mencari pengakuan manusia. Saat aku beramal, aku berharap pandangan guruku tertuju kepadaku. Betapa munafiknya aku. Maka di hadapan tulisan guruku, aku tak menemukan apa-apa selain aibku sendiri. Yang kuminta kini bukanlah balasan amal, bukan pula pujian atau pengakuan, melainkan kejujuran hati agar amal tak lagi menjadi topeng, dan ibadah tak lagi menjadi transaksi. Ya Allah, jika Engkau belum menerima amalku, cukup jangan Engkau cabut rasa malu ini dari hatiku.

26 Jan 2026 • Admin

Hikmah Mau Bengi: Nglakoni Amanate Guru

(Catatan ruhani seorang murid) Dalam laku sunyi mau bengi, saat badan menepi dan hati diajak menunduk, seorang murid belajar satu perkara penting: nglakoni amanate Guru bukan soal rame-rame amal, tapi soal jujur menghadapkan diri kepada Allah. Guru kami, KH. Masda Andi, dawuh dengan bahasa yang sederhana namun menghunjam ke dalam qolb. Dawuh ini bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungkan—terutama oleh diri penulis sendiri yang masih belajar menata batin. “Gak ono SATU NAFAS PUN TERLEPAS TEKO AKU (ALLOH), melainkan di situ pula ada QODARKU yang berlaku untuk awak dewe.” Kalimat ini mengajarkan bahwa hidup bukan ruang kebetulan. Nafas, langkah, bahkan diam kita—semuanya berada dalam genggaman Qadar Allah. Maka laku ruhani bukan soal merasa mampu, tetapi sadar sepenuhnya bahwa kita ini lemah. Guru lalu mengingatkan dengan contoh yang sangat halus namun tegas: “👉 IBLIS KUWI BANGET ALIME iblis ahli Al-Qur’an… iblis ahli hadist… iblis ahli riwayat… iblis alim/pandai dalam segala ilmu…” Namun semua ilmu itu tidak menjadikannya kekasih Allah. Sebab di dalam dirinya tumbuh satu kalimat berbahaya: “AKU LEBIH BAIK DARI KAMU.” Di sinilah letak peringatan besar bagi para pencari jalan: ilmu tidak otomatis melahirkan ketaatan, dan banyak tahu tidak selalu berbuah tawadhu’. Guru tidak menunjuk siapa pun. Dawuh ini justru ditujukan agar setiap murid berani bercermin, bukan menunjuk keluar. “Yang aku takut…” Bukan takut pada orang lain, tetapi takut pada diri sendiri: Hati yang mengeras namun lihai menasihati. Merasa paling benar hingga merendahkan yang lain. Ego yang tinggi, lupa bahwa semua hanya titipan. Pandai berprasangka, tapi malas mengoreksi diri. Lidah lincah membuka aib orang lain, namun menutup mata pada aib sendiri. Hebat dalam berkata, lemah dalam berbuat. Cerdas mengkritik, namun malas bertobat. Membenci dosa orang lain, tapi memaklumi dosa sendiri. Sebagai murid, penulis memahami bahwa dawuh ini bukan untuk menilai siapa pun, melainkan sebagai peringatan halus agar kita tidak terjebak pada kesombongan spiritual—kesombongan yang sering tersembunyi di balik pakaian agama dan bahasa kebaikan. Penutup dawuh guru adalah doa, bukan vonis: “Kiranya Allah Subhana Wa Ta’alla senantiasa menyadarkan KITA SEMUA sehingga lebih rajin instrospeksi diri daripada mengurusi orang lain…” Inilah adab jalan ruhani: melihat ke dalam sebelum menilai ke luar. Membersihkan hati sebelum membenahi dunia. Sebagai murid yang masih banyak kurangnya, tulisan ini ditata semata-mata untuk menjaga amanah dawuh guru, bukan untuk mengaku paham hakikatnya. Bila ada kebaikan, itu datang dari Allah. Bila ada kekurangan, itu murni dari diri penulis. Salam welas asih. 🙏

23 Jan 2026 • Admin

Lafẓul Jalālah Dobel dalam Al-Qur’an & Wirid Perlindungan RuhaniTafsir Showi – Juz 4

1. Pembukaan: Lafẓul Jalālah Dobel dalam QS. Al-An‘ām Dalam Al-Qur’an Surah Al-An‘ām ayat 12, terdapat pengulangan Lafẓul Jalālah (Allah – Allah) dalam satu susunan makna: Arab: قُلْ لِمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ قُل لِّلَّهِ ۚ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ Makna struktur: Qul liman… qul lillāh → perintah menyebut Allah → Allah Dalam tafsir isyari (Showi), ini disebut sebagai Lafẓul Jalālah dobel secara maknawi, bukan sekadar lafadz tulisan. Makna ruhani: Allah “mewajibkan atas diri-Nya sendiri kasih sayang” (كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ). Para masyayikh menafsirkan: Allah malu (secara makna adab ilahiyyah, bukan sifat jismiyah) jika hamba yang benar-benar mengamalkan dzikir dan doa berbasis pengakuan tauhid ini tidak dikabulkan. Ini bukan “menuntut Allah”, tetapi: i‘tirāf (pengakuan) iftiqār (ketergantungan total) istislām (penyerahan mutlak) Doa terlihat “menekan”, tapi ditutup dengan pengakuan kehambaan, bukan klaim hak. 2. Riwayat Ibnu ‘Abbās RA – Keutamaan Akhir Surah Al-Ḥasyr Riwayat masyhur dari Ibnu ‘Abbās ra: Arab (riwayat maknawi): مَنْ قَرَأَ آخِرَ سُورَةِ الْحَشْرِ فِي لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ، وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لَهُ Makna: “Barang siapa membaca akhir Surah Al-Ḥasyr (3 ayat terakhir) di malam atau siang hari, Allah mengutus 70.000 malaikat untuk mendoakan dan memohonkan ampun baginya.” Ini sejalan dengan ungkapan guru: “Seluruh makhluk Allah akan mendoakan dan memohonkan ampun” → maksudnya dunia malaikat dan makhluk ruhani, bukan makhluk jasmani secara fisik. 3. Riwayat Imam At-Tirmiżī – Dzikir Pagi Perlindungan Malaikat Hadis (At-Tirmiżī): Arab: مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ: أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ثُمَّ قَرَأَ ثَلَاثَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْحَشْرِ وَكَّلَ اللَّهُ بِهِ سَبْعِينَ أَلْفَ مَلَكٍ يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ مَاتَ فِي يَوْمِهِ مَاتَ شَهِيدًا. Terjemah ringkas: Siapa yang pagi hari membaca 3 kali: A‘ūdzu billāhis-samī‘il-‘alīm minasy-syaithānir-rajīm, lalu membaca 3 ayat terakhir Surah Al-Ḥasyr, maka Allah mengutus 70.000 malaikat untuk mendoakannya sampai sore. Jika ia wafat hari itu, mati syahid. 4. Tiga Ayat Terakhir Surah Al-Ḥasyr (Lengkap) QS. Al-Ḥasyr: 22–24 22 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ 23 هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ 24 هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ 5. Bedah Susunan Dzikir (Versi Padat – Sistematis) 🔹 Wirid Pagi (versi sanad amaliyah): Gambar dibagikan oleh ust bahrul ulum di group ashkhabiyyah 🔹 Fadhilah: Perlindungan ruhani 70.000 malaikat mendoakan Ampunan dosa Jika wafat hari itu → syahid maknawi (syahīd hukman, bukan fiqh jihad) 6. Makna Tasawufiyah (Inti Showi) Dzikir ini bukan klaim kuasa Tapi: Tauhid asmā’ (pengenalan nama Allah) Tauhid sifat Tauhid af‘āl Ditutup dengan keterangan beliau Semua yang ada di langit dan bumi, termasuk surga, neraka, ‘arsy (singgasana Allah), kusi (kursi Allah), tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi, udara, angin, burung, pohon, gunung, matahari, bulan, serta binatang dan makhluk melata, akan berdoa dan memohonkan ampunan untuk pembacanya. Makanya guru menyampaikan dengan guyon: “Iki saget dadi dalil kenopo wit alpukat kulo woh, soale kulo uluk salam ten wit alpukat.” Maknanya bukan mistik klenik, tapi: alam ikut merespon dzikir, karena seluruh wujud berada dalam sistem tasbih ilahi. Penutup (Formulasi Akidah Lurus) Dzikir ini: Terlihat menuntut Tapi hakikatnya pengakuan kehambaan Bukan memaksa Allah, Tapi bersandar pada rahmat yang Allah wajibkan atas diri-Nya sendiri Tauhid → pengakuan → kepasrahan → pengharapan → perlindungan

Menampilkan halaman 8 dari 17 (Total 152 data)