WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

23 Feb 2026 • Admin

5 Ramadhan 1447 H

Hikmah Ngamal lan Ngadepi Khilafiyah (Dawuh lan cerita saking guru kulo, KH Masda Andi) Pada malam ke-5 Ramadhan 1447 H, dalam suasana pengajian yang khidmat, guru kami KH Masda Andi menyampaikan dawuh yang sederhana namun dalam maknanya: Ngamal kudu ningkat, lan ningkaté kudu nganggo ilmu. Beliau menegaskan bahwa peningkatan amal tidak cukup hanya dengan semangat. Amal harus bertumpu pada ilmu. Sebab tanpa ilmu, amal bisa kehilangan arah. Ilmu Agama Bukan untuk Perdebatan Guru kami dawuh: Ilmu agomo ora kanggo perdebatan. Ora kanggo nyalah-nyalahno. Cukup kanggo ngamal awak dewe lan keluargi. Ilmu agama bukan untuk ajang merasa paling benar. Bukan untuk menyalahkan orang lain. Cukup kita gunakan untuk memperbaiki diri sendiri dan keluarga. Namun berbeda jika ada orang yang benar-benar bertanya dengan tulus untuk belajar. Maka di situ ilmu dijelaskan dengan adab dan kelembutan. Belajar Fiqih: Ikhya’ dan Al-Muwaththa’ Beliau memberi contoh, ketika belajar fiqih dalam Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, patokannya bisa berbeda dengan kitab lain. Misalnya jika membuka Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, tentu ada perbedaan sudut pandang dan pendekatan. Perbedaan itu wajar. Karena masing-masing imam memiliki metodologi istinbath (pengambilan hukum) yang berbeda. Maka dari itu, jangan mudah merasa paling benar hanya karena membaca satu rujukan saja. Kisah Kyai Fahrudin di Tebu Ireng Guru kami kemudian menceritakan kisah nyata tentang seorang ulama Muhammadiyah, Kyai Fahrudin. Beliau pernah diundang ke pesantren Pondok Pesantren Tebuireng, yang didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari. Undangan itu datang dari salah satu sesepuh, bahkan disebut pernah diundang oleh Abdurrahman Wahid. Pada tahun 1980-an, ketika beliau hadir, para santri meminta beliau untuk mengimami shalat tarawih. Padahal beliau dikenal sebagai kyai Muhammadiyah. Sebelum mulai, beliau berkata kepada para santri: “Aku diutus ngimami. Sampeyan jaluk model piro?” Para santri serentak menjawab: 20 rakaat + 3 witir. Dengan kedalaman ilmu dan kelapangan hati, beliau tidak menolak. Beliau tidak memperdebatkan khilafiyah. Shalat pun berjalan. Setelah 8 rakaat, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Beliau kembali bertanya: “Dilanjut nopo?” Akhirnya para santri memilih cukup 8 rakaat. Dan tercatatlah sebuah peristiwa yang unik: Di “kandang NU”, pernah dilaksanakan tarawih 8 rakaat — bukan karena perdebatan, tetapi karena kelapangan hati dan musyawarah. Semakin Tinggi Ilmu, Semakin Ringan Menghadapi Perbedaan Guru kami menutup dengan dawuh yang sangat dalam: “Semakin tinggi ilmu agomo seseorang, semakin enteng ngadepi khilafiyah.” Orang yang benar-benar alim tidak mudah panas. Tidak mudah tersinggung. Tidak gampang memisahkan diri hanya karena beda pandangan. Beliau berpesan: Ojo sampek awake dhewe rumangsa alim, banjur delok perkara sing ora cocok karo panemu dhewe, terus misah. Boten pareng ngoten. Ojo sok pinter, ojo sok bener. Ilmu sejati melahirkan tawadhu’. Bukan kesombongan. Penutup Dari pengajian malam itu, kami belajar: Tingkatkan amal dengan ilmu. Jangan jadikan agama sebagai alat perdebatan. Khilafiyah adalah bagian dari keluasan rahmat Allah. Kedewasaan dalam agama terlihat dari sikap, bukan dari kerasnya argumentasi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berilmu sekaligus berakhlak. Yang tenang dalam perbedaan. Dan yang istiqamah dalam amal. Wallahu a‘lam

23 Feb 2026 • Admin

Penegasan Tiga Doa Penting dalam Shalat

Pengajian Ramadhan 1447 H – Hari ke-4 Disampaikan oleh Guru Kami KH Masda Andi Alhamdulillah, pada hari ke-4 Ramadhan 1447 H, di majelis yang penuh berkah, guru kami KH Masda Andi kembali mengingatkan kami tentang tiga doa penting yang sering kita baca dalam shalat, namun sering pula kita lewatkan maknanya. Beliau menyampaikan bahwa doa-doa ini bukan sekadar bacaan, tetapi bekal hidup dan mati seorang hamba. Berikut pengulangan materi tersebut, lengkap dengan teks Arab yang benar dan tulisan latin agar mudah diamalkan. 1️⃣ Doa Sujud Terakhir: Memohon Husnul Khatimah Guru kami mengajarkan agar di sujud terakhir kita memperbanyak doa, karena sujud adalah posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya. 📖 Teks Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَارْزُقْنَا تَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ. ✍ Latin: Allahumma inni as aluka husnal khatimah, warzuqna taubatan qoblal maut. Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi alal iman wal islam. ✨ Makna dan Penekanan Guru Husnul khatimah bukan hanya mati dalam keadaan Islam, tetapi mati dalam keadaan taat. Taubat sebelum mati adalah rezeki besar. Hati itu berbolak-balik, maka kita memohon keteguhan iman. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim) Karena itu, doa “Ya Muqollibal Qulub” sangat penting dibaca. 2️⃣ Doa Sebelum Salam: Perlindungan dari Empat Perkara Guru kami menekankan agar jangan meninggalkan doa ini sebelum salam, karena ini doa yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ. 📖 Teks Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. ✍ Latin: Allahumma inni a’udzu bika min adzabil qobri, wa min adzabi jahannam, wa min fitnatil mahya wal mamat, wa min fitnatil masikhid dajjal. ✨ Penjelasan Singkat Empat perkara yang dimintakan perlindungan: Azab kubur Azab neraka Fitnah kehidupan dan kematian Fitnah Dajjal Dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah ﷺ memerintahkan membaca doa ini sebelum salam. Guru kami menyampaikan, “Kalau Nabi saja mengajarkan berlindung, apalagi kita yang penuh dosa.” 3️⃣ Doa Setelah Salam: Menguatkan Tauhid dan Menghilangkan Kegundahan Setelah salam, guru kami mengajarkan membaca syahadat dan doa agar Allah menghilangkan kesedihan dan kegelisahan. 📖 Teks Arab: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيمُ. اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ. ✍ Latin: Asyhadu an la ilaha illallah ar rahman ar rahim. Allahumma adzhib anni al hamma wal hazan. ✨ Pesan Guru Hidup ini tidak lepas dari: Hamma (kegelisahan tentang masa depan) Hazan (kesedihan tentang masa lalu) Maka setelah shalat, kita meneguhkan tauhid dan menyerahkan beban kepada Allah. Penutup Pada hari ke-4 Ramadhan 1447 H ini, guru kami KH Masda Andi mengingatkan bahwa: Sujud terakhir adalah tempat memohon akhir yang baik. Sebelum salam adalah benteng perlindungan Benteng perlindungan dari kegelisahan, jadi setelah salam juga dianjurkan mengusab jidad NB: kumpulan amaliah doa berada di menu Perbendaharaan Ashkhabiyyah

22 Feb 2026 • Admin

Kisah Sahabat yang Mengucap “Rabbana Lakal Hamdu”

Kisah ini diriwayatkan dari sahabat mulia Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi. Beliau shalat di belakang Rasulullah ﷺ. Saat bangkit dari ruku’, Nabi membaca: “Sami‘allahu liman hamidah.” Lalu sahabat tersebut menambahkan doa: “Rabbana lakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih.” (Ya Rabb kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak, baik, dan penuh keberkahan.) Setelah selesai shalat, Rasulullah ﷺ bertanya: “Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?” Sahabat itu mengaku. Maka Nabi bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba untuk mencatatnya.” Hadits ini shahih dan menjadi dalil penting dalam pembahasan dzikir dan ibadah. 📌 Tambahan Penting: Dasar Amaliah yang Tidak Langsung Dicontohkan Nabi Kisah ini sering dijadikan dasar oleh para ulama bahwa lafadz dzikir yang tidak persis diajarkan Nabi, tetapi tidak menyelisihi syariat, bisa diterima dan bernilai kebaikan.

22 Feb 2026 • Admin

Keutamaan kalimah alhamdulillah 4 Ramadhan 1447 H

Pembukaan Pengajian di Maqbaroh Mbah Ahmad Dipimpin guru kami, KH Masda Andi Kajian Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali (Hujjatul Islam) Pada malam ke-4 Ramadhan 1447 H, kami kembali duduk bersimpuh di maqbaroh Mbah Ahmad. Dengan penuh adab, guru kami membuka pengajian dengan membahas keutamaan kalimat Alhamdulillah, sebagaimana diterangkan dalam Ihya’ Ulumuddin. 🌙 Keutamaan Mengucap Alhamdulillah Guru kami menyampaikan dawuh Nabi ﷺ: Siapa yang mengucapkan Alhamdulillah, maka kalimat itu menyebar di antara langit dan bumi. Betapa agungnya satu kalimat pujian kepada Allah. Kalimat itu tidak berhenti di lisan, tetapi naik dan memenuhi ruang antara langit dan bumi. Kemudian guru mengaitkan dengan firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 7: “La in syakartum la azidannakum…” Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah (nikmat-Ku kepada kalian). Artinya, syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sebab datangnya tambahan nikmat. Disampaikan pula firman Allah: “Wa maa nu‘ammirhu nunakkis-hu fil khalqi afalaa ya‘qiluun.” (QS. Yasin: 68) Ayat ini mengingatkan bahwa umur manusia berjalan menuju kelemahan. Maka waktu yang ada hendaknya diisi dengan dzikir dan syukur. 🌌 Tiga Lapisan Alhamdulillah Guru kami memberi penjelasan yang menyentuh hati: Alhamdulillah pertama → memenuhi satu lapis langit dan bumi. Alhamdulillah kedua → memenuhi tujuh lapis langit dan bumi. Alhamdulillah ketiga → segala permintaanmu bakal diparingaken. Bahkan tidak perlu meminta, Allah sudah memberi. Ini bukan hitungan matematis, tetapi gambaran betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba yang bersyukur. Namun guru menegaskan dengan penuh kehati-hatian: “Tidak sembarang orang bisa mengucap Alhamdulillah, kecuali dengan izin Allah.” Artinya, bahkan kemampuan bersyukur pun adalah karunia. Jika hati kita tergerak memuji Allah, itu tanda Allah masih menghendaki kebaikan bagi kita.

22 Feb 2026 • Admin

Tanqihul Qaul dan Adab Menyambut Adzan

(Rangkuman Keterangan dari Imam Nawawi al-Bantani dan Penjelasan Ulama) Adzan bukan sekadar panggilan menuju shalat. Ia adalah seruan langit yang menggema di bumi—mengajak hati kembali kepada Allah ﷻ. Para ulama menjelaskan bahwa di saat adzan dikumandangkan, terdapat adab-adab dan amalan yang dianjurkan untuk menyambutnya. Di antara keterangan yang masyhur disebutkan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Tanqihul Qaul, beliau mengutip sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Qatadah: مَنْ قَالَ عِنْدَ الأَذَانِ مَرْحَبًا بِالْقَائِلِيْنَ عَدْلاً، مَرْحَبًا بِالصَّلَوَاتِ وَأَهْلاً، كَتَبَ اللهُ تَعَالٰى لَهُ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ Artinya: “Barang siapa berkata ketika adzan dikumandangkan: Marhaban bil qoilina ‘adlan, marhaban bissholawati wa ahlan, maka Allah Ta‘ala mencatat baginya seribu kebaikan, menghapus darinya seribu keburukan, dan mengangkat baginya seribu derajat.” Lafal yang Dibaca Saat Adzan Tulisan latin (dibaca biasa, tanpa ritual khusus): Marhaban bil qoilina adlan, marhaban bis sholawati wa ahlan. Fadilahnya disebutkan: Dicatat 1.000.000 kebaikan Dihapus 1.000.000 keburukan Diangkat 1.000.000 derajat (Beberapa riwayat menyebut angka lebih besar, namun yang masyhur dalam kutipan tersebut adalah seribu.) Amalan Lain yang Disebutkan Ulama Dalam sebagian penjelasan ulama—khususnya yang disebut dalam kitab Mawahib al-Jalil (madzhab Malikiyah) dan juga disebut dalam I’anat ath-Thalibin (madzhab Syafi’iyah)—disebutkan riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi Khidhir: Ketika mendengar muadzin membaca: “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” Lalu membaca: Marhaban bihabibi wa qurrati aini Muhammad bin Abdillah Saw. Kemudian mengecup dua ibu jari dan mengusapkannya ke kedua mata. Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa pelakunya tidak akan mengalami kebutaan dan sakit mata. Namun, penting dipahami bahwa amalan ini termasuk dalam wilayah fadha’il (keutamaan), bukan hukum wajib atau sunnah muakkadah yang baku dalam fiqih. Ia diamalkan sebagian ulama sebagai bentuk mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ. Pertanyaan: Apakah Dibaca Dengan Menengadahkan Tangan? Sueb bertanya: Apakah membacanya dengan menengadahkan tangan seperti berdoa, atau cukup dibaca dalam hati saja? Jawaban Guru kami, KH Masda: “Tidak usah menengadahkan tangan. Cukup dibaca biasa.” Artinya: Tidak perlu mengangkat tangan seperti doa. Tidak perlu gerakan khusus. Cukup dibaca sebagaimana dzikir biasa ketika pertama kali mendengar adzan. Karena inti amalan ini adalah menyambut panggilan Allah dengan hati yang lapang dan penuh penghormatan. Adab Menyambut Adzan Agar amalan ini tidak sekadar menjadi rutinitas lisan, maka hendaknya disertai adab: Menghentikan aktivitas sejenak ketika adzan terdengar. Menjawab lafadz adzan sebagaimana tuntunan Nabi ﷺ. Membaca shalawat setelah adzan. Membaca doa setelah adzan. Jika ingin menambah bacaan “Marhaban…”, niatkan sebagai bentuk penghormatan dan kegembiraan menyambut shalat. Karena hakikatnya, yang paling utama adalah menjawab adzan sebagaimana yang diajarkan dalam hadits-hadits shahih. Penutup Adzan adalah panggilan rahmat. Siapa yang menyambutnya dengan cinta, ia akan diberi balasan dengan cinta pula. Amalan membaca: Marhaban bil qoilina adlan, marhaban bis sholawati wa ahlan adalah bentuk kegembiraan menyambut seruan Allah. Namun tidak perlu berlebihan dalam tata caranya. Cukup dibaca dengan khusyuk, tanpa gerakan khusus, sebagaimana dawuh guru. Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika mendengar adzan, bukan hanya telinga yang mendengar, tetapi hati yang menjawab. Wallahu a’lam bish shawab Tambahan do’a yang dibaca setelah adzan Allahumma rabb hadzihid da’watit tammati wash sholatil qoimah.Aati Sayyidina Muhammadanil wasilata wal fadhilata wasy syarofa wad darojatal aliyatar rofi’ah.Wab’ats-hu maqoman mahmudanil ladzi wa’adtah.Innaka la tukhliful mi’ad.(Robbighfir li waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro.)x5Allahumma barik li fi dzurriyyati wa la tadhurrohum wa waffiqhum lito’atik.Warzuqni birrohum.Allahumma inni as-alukal ’afwa wal ‘afiyah wal mu’afatal da-imata fid dini wad dunya wal akhirah.Wa shollallahu ’ala Sayyidina Muhammadin wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.

22 Feb 2026 • Admin

Pembukaan Pengajian Al-Ashkhabiyyah “keutamaan tasbih tahmid dan tahlil”

3 Ramadhan 1447 H Di Maqbarah Mbah Ahmad Dipimpin Guru Kami, KH. Masda Andi Alhamdulillah, pada malam 3 Ramadhan 1447 H, kami kembali diberi kesempatan menghadiri Pengajian Al-Ashkhabiyyah di maqbarah Mbah Ahmad. Dengan penuh takzim, pengajian dipimpin oleh guru kami, KH. Masda Andi. Semoga Allah menjaga beliau dan memanjangkan manfaat ilmunya untuk kami semua. Mengapa Membaca Istighfar 70 Kali? Guru kami menjelaskan tentang amalan membaca: “Astaghfirullah innahu kana ghaffara” sebanyak 70 kali dalam wirid Ramadhan. Beliau dawuh, salah satu riwayat menyebutkan bahwa membaca istighfar satu kali saja sudah menjadi sebab ampunan. Namun jika dibaca 70 kali, bukan hanya dosa diri sendiri yang diampuni, tetapi kita memohon kepada Allah agar dosa keluarga dan bahkan tetangga juga diampuni. Lalu muncul pertanyaan dari jamaah: Tetangga yang mana? Tetangga rumah, atau tetangga di sekitar majelis? Guru kami mengembalikan jawaban itu pada luasnya rahmat Allah. Ampunan Allah tidak sempit. Rahmat-Nya meliputi siapa saja yang Dia kehendaki. Maka yang terpenting adalah keyakinan kita saat membaca istighfar tersebut. Guru kami bertanya, “Yakin?” Dan jamaah menjawab serentak, “Yakin.” Keyakinan inilah yang menjadi ruh dalam setiap amalan. Fadhilah Tahlil: Laa Ilaaha Illallah Dalam pengajian juga dibahas keutamaan kalimat tahlil, “Laa ilaaha illallah.” Bisa dibaca ulang di postingan : keutamaan kalimah laa ilaaha illallah Guru kami mengutip riwayat tentang dialog Nabi dengan Abu Hurairah. Ketika amal manusia ditimbang di hari kiamat, kalimat Laa ilaaha illallah memiliki kedudukan yang sangat agung. Bahkan disebutkan, jika kalimat ini diletakkan di satu timbangan, dan di sisi lain diletakkan langit tujuh dan bumi tujuh, maka kalimat tahlil itu lebih berat — jika diucapkan dengan keyakinan yang sungguh-sungguh. Betapa agungnya kalimat tauhid ini. Fadhilah Tasbih dan Tahmid Rasulullah ﷺ bersabda bahwa membaca: “Subhanallah wa bihamdihi” sebanyak 100 kali dalam sehari semalam, akan dihapus dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang gemar berdzikir. Dzikir Pembuka Rezeki Dikisahkan ada seseorang mengadu kepada Nabi bahwa dunia seakan menjauh darinya dan rezekinya terasa sempit. Nabi bertanya, “Dari mana malaikat dan seluruh makhluk mendapatkan rezeki?” Tentu dari Allah. Lalu beliau mengajarkan dzikir: “Subhanallah wa bihamdihi, Subhanallahil ‘azhim, Astaghfirullah.” Guru kami menegaskan agar dzikir ini dibaca 100 kali di waktu antara terbit fajar hingga sebelum Subuh, atau setelah shalat qabliyah Subuh hingga masuk Subuh. Dengan izin Allah, dunia akan datang dalam keadaan hina. Artinya, bukan kita yang mengejar dunia, tetapi dunia yang Allah tundukkan. Nasehat Guru Di akhir pengajian, guru kami dawuh dengan penuh kasih: “Kalau kalian sedang sumpek, datanglah kepada guru.” Nasihat ini bukan sekadar ajakan fisik, tetapi juga makna ruhani: ketika hati gelisah, jangan lari dari majelis ilmu dan dzikir. Justru mendekatlah. Penutup Pengajian malam itu mengajarkan kami tiga hal utama: Perbanyak istighfar dengan keyakinan. Jaga kalimat tauhid dalam hati dan lisan. Hidupkan tasbih dan tahmid setiap hari. Semoga kami mampu mengamalkan, bukan hanya mendengar. Semoga Ramadhan ini benar-benar menghidupkan hati kami. Dan semoga Allah memasukkan kita semua ke dalam rahmat-Nya yang luas. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

20 Feb 2026 • Admin

Keutamaan Majlis Dzikir 2 Ramadhan 1447

2 Ramadhan 1447 H  Ihya’ Ulumuddin bersama KH. Masda Andi Menghidupkan Hati dengan Dzikir Pada malam kedua Ramadhan 1447 H, kami kembali duduk bersimpuh di majelis, membuka lembaran Ihya Ulumuddin karya agung Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam. Dengan penuh takzim, kami mendengarkan dawuh guru kami, KH. Masda Andi, yang menukil sanad keilmuan dari Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ. Hadits yang dibacakan adalah tentang kemuliaan majelis dzikir. Di dalamnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di bumi, mencari majelis-majelis dzikir. Jika mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka saling memanggil: ‘Kemarilah kepada apa yang kalian cari.’ Lalu mereka mengelilingi majelis itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit dunia…” (HR. Muslim) Malaikat Mencari Ahli Dzikir Guru kami menjelaskan: Allah Ta‘ala memiliki malaikat yang ditugaskan menyebar di muka bumi. Mereka bukan malaikat pencatat amal (Kiraman Katibin), tetapi malaikat yang secara khusus mencari hamba-hamba yang berdzikir. Ketika satu malaikat menemukan majelis dzikir, ia memanggil yang lain. Mereka berkumpul, mengelilingi majelis itu, bahkan menutupinya dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Betapa agungnya sebuah majelis yang mungkin secara lahir hanya berupa tikar sederhana dan beberapa hamba yang duduk melingkar, tetapi secara batin dikerumuni malaikat. Dialog Ilahi: Pertanyaan Allah kepada Malaikat Kemudian para malaikat naik ke langit. Allah — yang Maha Mengetahui — bertanya kepada mereka: “Apa yang dilakukan hamba-hamba-Ku?” Malaikat menjawab: Mereka memuji-Mu, ya Allah. Mereka mengagungkan-Mu. Mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu. Allah bertanya lagi: “Apakah mereka melihat-Ku?” Malaikat menjawab: Tidak, ya Allah. Allah berfirman: “Bagaimana jika mereka melihat-Ku?” Malaikat berkata: Seandainya mereka menyaksikan keagungan-Mu, niscaya mereka tidak akan pernah berhenti bertasbih dan memuji-Mu. Di sinilah hakikat tasawuf mulai terbuka. Dzikir yang kita lakukan hari ini adalah dzikir dalam hijab. Kita belum menyaksikan. Kita hanya beriman. Namun iman yang ghaib itulah yang justru mengangkat derajat seorang hamba. Tentang Neraka dan Surga Allah bertanya lagi: “Dari apa mereka meminta perlindungan?” Malaikat menjawab: Mereka meminta perlindungan dari neraka. “Apakah mereka telah melihat neraka?” Tidak, ya Allah. “Bagaimana jika mereka melihatnya?” Malaikat menjawab: Jika mereka mengetahui pedihnya siksa neraka, tentu mereka akan lebih sungguh-sungguh dalam dzikir dan semakin menjauhi larangan-Mu. Allah bertanya: “Apa yang mereka harapkan?” Malaikat menjawab: Mereka berharap surga-Mu. “Apakah mereka telah melihat surga?” Belum, ya Allah. “Bagaimana jika mereka melihatnya?” Seandainya mereka menyaksikan surga, niscaya mereka akan semakin rindu dan semakin bersemangat untuk memasukinya. Ampunan yang Meliputi Semua Lalu Allah berfirman dalam hadits itu: “Aku persaksikan kepada kalian, wahai para malaikat, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” (Dalam sebagian riwayat: qod ghofartu lahum – sungguh Aku telah mengampuni mereka.) Namun malaikat berkata: Ya Allah, di antara mereka ada satu orang yang tidak berniat dzikir. Ia hanya datang karena urusan lain. Allah berfirman: “Humul qoumu laa yasyqoo bihim jaliisuhum.” Mereka adalah kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka. Inilah samudera rahmat. Bahkan orang yang awalnya tidak serius pun, jika ia duduk dalam majelis dzikir, ikut terkena percikan ampunan. Tafsir Ruhani dari Guru Kami Guru kami dawuh dengan penuh ketegasan ruhani: “Seumpama kalian diberi kesempatan melihat siksa neraka, kalian tidak akan sanggup makan.” Kalimat ini bukan ancaman, melainkan penyadaran. Kita hari ini masih bisa tertawa, masih bisa lalai, karena hijab belum tersingkap. Andaikan hakikat dibukakan, jasad ini takkan kuat menanggungnya. Tasawuf mengajarkan: dzikir bukan sekadar lafadz, tetapi latihan hati untuk menyadari kehadiran Allah dalam keadaan belum melihat. Majelis dzikir bukan hanya forum bacaan, tetapi taman surga yang diturunkan ke bumi. Dan Ramadhan adalah musim di mana rahmat itu dilipatgandakan. Penutup: Adab Seorang Murid Kami menulis ini bukan karena merasa telah memahami, tetapi sebagai murid yang ingin mengikat ilmu agar tidak lepas. Semoga Allah menjadikan kami termasuk orang yang duduk di majelis dzikir bukan hanya secara jasad, tetapi juga secara hati. Ya Allah, jadikan kami bagian dari humul qoumu itu. Kaum yang Engkau ampuni, walau kami datang dengan penuh kekurangan. Allahu a‘lam bish-shawab.

20 Feb 2026 • Admin

Hakikat Wirid yang dibaca Pengajian 2 Ramadhan 1447 H

Maqbarah Mbah Ahmad – Adab, Sholawat, dan Hakikat Tasawuf 2 Ramadhan 1447 H dibuka dengan suasana yang penuh khidmah di maqbarah Mbah Ahmad. Angin malam berhembus pelan, jamaah duduk bersila, hati ditata. Guru kami membuka pengajian bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan satu pertanyaan sederhana namun dalam: “Sholawat apa yang dibaca dalam pengajian ini?” Lalu beliau menuntun kami membaca: “Allohumma Sholli wa Salim ‘Ala Sayyidina Muhammadin wa ‘Ala Aalih, sholata ahlis samawati wal ardli ‘Alaih.” Sholawat yang singkat, namun lautan makna. Hakikat Sholawat: Menghubungkan Langit dan Bumi Secara lahir, kita membaca satu kali. Namun guru kami menjelaskan: Barangsiapa membaca sholawat ini satu kali, seakan-akan ia mendapatkan catatan sholawatnya seluruh penduduk langit dan penduduk bumi. Ini bukan hitungan matematis biasa. Ini adalah hakikat keterhubungan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “InnaLloaha wa malaa-ikatahu yusholluuna ‘alan Nabi…” (Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi) Artinya, sholawat bukan hanya ibadah manusia. Ia adalah amalan kosmik — amalan langit dan bumi. Ketika seorang hamba bersholawat, ia sedang masuk ke dalam arus dzikir semesta. Mengapa Disebut Angka 132? Guru kami menyebut angka 132, dan menjelaskan dari ilmu hisab huruf (abajadun). Dalam perhitungan huruf Arab: Namun jika dihitung dengan variasi tertentu dalam tradisi abajadun yang diperluas (termasuk nilai tersembunyi atau isim kamil), sebagian ulama menghitungnya menjadi 132. Bagi ahli tasawuf, angka bukan sekadar nominal. Ia adalah isyarat. 132 menjadi simbol bahwa nama “Muhammad” mengandung limpahan rahmat yang tak terhingga. Namun yang lebih penting dari angka adalah: keyakinan dan mahabbah ketika membaca. Tasawufnya: Dari Hitungan Menuju Kehadiran Dalam hakikat tasawuf, wirid bukan soal banyaknya bacaan. Tetapi soal: Hadirnya hati Luruhnya ego Tersambungnya ruh kepada Rasulullah ﷺ Satu sholawat yang dibaca dengan hadir, lebih berat dari seribu sholawat tanpa rasa. Guru kami tidak hanya menjelaskan pahala. Beliau menanamkan semangat dan keyakinan agar Ramadhan tidak menjadi slogan, tetapi menjadi perjalanan ruhani. Pesan Paling Tegas: Jangan Merasa Paling Benar Di akhir pembukaan pengajian malam ini, guru kami dawuh: “Jenengan ahli sholat ojo nyalahno wong seng gurung sholat.” “Jenengan ahli poso ojo nyalahno wong seng durung poso.” Inilah inti tasawuf. Ahli ibadah yang masih suka menyalahkan orang lain, berarti ibadahnya belum menembus hati. Tasawuf mengajarkan: Sholat membersihkan diri, bukan untuk merasa suci. Puasa melatih sabar, bukan untuk merasa lebih tinggi. Orang yang sudah merasakan manisnya ibadah, biasanya justru lebih lembut kepada yang belum mampu.

20 Feb 2026 • Admin

Pertanyaan Gus Nafi (Pak Mudin) kepada Guru Kami: KH Masda Andi

Dalam sebuah dialog, Gus Nafi (Pak Mudin) bertanya kepada guru kami, KH Masda Andi, tentang hakikat shoum: “Jika shoum, apakah ditentukan waktu?” Guru menjawab dengan merujuk pada makna dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surat Maryam, ketika Sayyidah Maryam berkata: “Innii nadzartu lirrahmaani shouman falan ukallima al-yauma insiyya” (Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang pun). Di sini, shoum dimaknai bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi menahan diri dari berbicara. ✦ Makna Shoum Secara Umum Guru dawuh: Fal yakul khairan aw liyasmut — Berkatalah yang baik atau diam. Shoum secara umum adalah mencegah diri dari ucapan yang tidak bermanfaat. Namun beliau juga menegaskan: Shoum dalam arti tidak berbicara total memang ada. Tetapi itu adalah maqom tertentu, dilakukan oleh sedikit orang dalam konteks riyadhoh (latihan spiritual). Tidak boleh ditempatkan sembarangan, karena bisa mengganggu hubungan sosial. Beliau memberi contoh pengalaman pribadi: “Kulo nate ngelakoni shoum ba’da Isya’ sampai Subuh.” Artinya, latihan diam itu dilakukan pada waktu tertentu, sebagai riyadhoh, bukan sebagai kewajiban umum. Dalam kaidah suluk disebutkan: Siapa yang riyadhoh 40 hari dengan sungguh-sungguh, akan keluar kalam hikmah dari hatinya, bahkan ia sendiri tidak menyadarinya. Beliau juga menceritakan kisah tentang Gus Hasyim yang pernah melakukan riyadhoh tidak terkena sinar matahari di rumahnya di Jatirejo — sebuah bentuk latihan batin, bukan syariat umum. ✦ Kesimpulan Shoum dalam makna riyadhoh: Tidak mengikat waktu syariat tertentu. Bersifat latihan spiritual. Harus sesuai porsi dan bimbingan guru. 2️⃣ Apakah Orang yang Tidak Berpuasa Harus Menghormati yang Berpuasa? Pertanyaan kedua: “Beberapa hari disampaikan orang yang tidak berpuasa harus menghormati orang yang berpuasa.” Guru menjawab dengan mengutip dawuh Abdurrahman Wahid (Gus Dur): “Jika Anda Muslim yang terhormat, maka puasa Anda akan mampu menghormati orang yg tidak berpuasa” Ini bukan soal paksaan, tetapi soal kehormatan diri. ✦ Makna “Yaa Ayyuhalladziina Aamanuu” Ketika Allah berfirman: Yaa ayyuhalladziina aamanuu (Wahai orang-orang yang beriman), Itu adalah panggilan kehormatan. Allah sendiri yang memanggil. Maka pertanyaannya kembali pada diri masing-masing: Apakah kita tergoda untuk mengabaikan panggilan itu? Atau kita merasa terhormat ketika dipanggil sebagai orang beriman? Menghormati orang yang tidak berpuasa adalah bagian dari menjaga adab sosial dan ukhuwah. Bukan semata-mata soal hukum, tetapi soal akhlak dan kesadaran iman. Penutup Dari dialog ini kita belajar: Shoum bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan lisan. Shoum dalam maqom riyadhoh tidak mengikat waktu syariat, namun harus dalam bimbingan. Menghormati orang yang tidak berpuasa adalah cermin kehormatan diri sebagai muslim. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang ketika dipanggil: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu” kita menjawab dengan hati yang tunduk dan lisan yang terjaga

Menampilkan halaman 7 dari 17 (Total 152 data)