WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

13 Apr 2026 • Admin

Bedah Makna: Filosofi Bilangan dalam Bahasa Jawa

(Penjabaran murid dengan penuh adab dari hikmah yang beredar di tengah jamaah) Mukadimah Dengan penuh adab, tulisan ini bukan untuk memastikan kebenaran asal-usul bahasa, tetapi nggih nyobi ngambil hikmah lan rasa dari filosofi bilangan dalam bahasa Jawa, agar menjadi bahan renungan bagi kita semua. 1. Likur: Simbol “Mulai Mendapat Tempat” Dalam bahasa Jawa, angka: 21 → selikur 22 → rolikur hingga 29 → songo likur Tidak disebut “rong puluh siji” dan seterusnya, tetapi menggunakan istilah likur. Diartikan secara hikmah: Likur = lingguh kursi (duduk di kursi) Penjabaran:Usia 21–29 adalah fase: mulai menemukan arah hidup mulai punya pekerjaan atau peran mulai “duduk” pada posisi kehidupan ➡️ Makna hakikat:Manusia mulai diuji bukan lagi dengan mencari, tetapi menjaga posisi dan tanggung jawab hidupnya. 2. Selawé (25): Puncak Gejolak Rasa Ada keunikan pada angka 25, tidak disebut “limang likur”, tetapi: Selawé = senenge lanang lan wedok Penjabaran:Ini menggambarkan fase: puncak ketertarikan antara laki-laki dan perempuan masa di mana banyak orang mulai menikah ➡️ Makna hakikat:Bukan sekadar asmara, tetapi ujian bagaimana menyalurkan rasa dalam jalan yang halal dan bertanggung jawab. 3. Seket (50): Tanda Kembali ke Kesadaran Secara pola harusnya “limang puluh”, namun disebut: Seket = seneng kethunan (senang memakai tutup kepala) Penjabaran:Di usia ini: rambut mulai memutih fisik mulai menurun tanda-tanda usia terlihat jelas Namun dalam makna lebih dalam: kopiah/tutup kepala → simbol ketaatan tanda mulai serius dalam ibadah ➡️ Makna hakikat:Usia 50 adalah panggilan untuk kembali menata diri, memperbanyak ibadah, dan menyiapkan bekal akhirat. 4. Sewidak (60): Isyarat Wektu Tindak Angka 60 dalam Jawa disebut: Sewidak / Suwidak = sejatiné wis wayahe tindak Penjabaran:Ini adalah pengingat halus: umur sudah matang waktu hidup di dunia semakin sedikit saatnya benar-benar siap menghadap Allah ➡️ Makna hakikat:Hidup bukan lagi tentang merencanakan dunia, tetapi mempersiapkan kepulangan. 5. Benang Merah: Dari Duduk hingga Berangkat Jika dirangkai, filosofi ini memberi alur kehidupan: Likur → mulai mendapat tempat Selawé → mengelola rasa dan hubungan Seket → kembali kepada ibadah Sewidak → siap untuk pulang ➡️ Makna hakikat:Hidup manusia itu bergerak:dari dunia → menuju tanggung jawab → menuju kesadaran → menuju kepulangan Penutup Filosofi ini bukan sekadar permainan kata, tetapi bisa menjadi: pengingat perjalanan hidup cermin untuk melihat posisi diri dorongan untuk memperbaiki arah Dalam bahasa sederhana: enom goleki papandiwasa ngopeni tanggung jawabtuwa bali marang Gusti Mugi-mugi kita sedaya: diparingi umur sing manfaat diparingi kesadaran sebelum terlambat lan dipungkasi kanthi khusnul khotimah Aamiin…Gusti Allah

11 Apr 2026 • Admin

Petikan Gagasan: Standarisasi Ilmu lan Wibawa Ulama

Mudah-mudahan menjadi kenyataan, usulan dari Tuan Guru Turmudzi (Pengasuh Ponpes Qomarul Huda Bagu, Lombok): “Idealnya, Syuriah NU tingkat pusat mengkhatamkan: Al-Umm, Al-Raudhah (Raudhatut Thalibin wa Umdat al-Muftin) karya Imam Nawawi, dan Al-Fath (Fathul Aziz Syarh al-Wajiz / Al-Syarhul Kabir) karya Imam Rafi’i.” Kemudian diturunkan sesuai tingkatan: Tingkat Wilayah: khatam Al-Umm & Al-Muhadzab Tingkat Cabang: khatam Al-Raudhah & Fathul Wahab Tingkat MWC: khatam Fathul Mu’in Tingkat Ranting: khatam Fathul Qarib Standar Keilmuan Sebagai Syarat Amanah Dalam gagasan ini ditegaskan: “PBNU tidak akan mengakui pengurus Syuriah yang tidak memenuhi syarat tersebut.” Ini bukan untuk memberatkan, tetapi untuk menjaga martabat: Syuriah adalah posisi tertinggi dalam struktur keilmuan NU Maka yang mendudukinya harus benar-benar ulama Bukan sekadar organisator, tapi ahli ilmu yang mumpuni Dengan demikian, jabatan tidak lagi menjadi rebutan, tetapi menjadi amanah ilmiah yang berat. Menghidupkan Makna “Nahdlatul Ulama” NU berarti “kebangkitan para ulama”. Maka sangat pantas jika: yang tampil adalah ulama yang benar-benar berilmu yang berbicara adalah mereka yang memiliki dasar kitab yang memimpin adalah mereka yang bisa dipertanggungjawabkan ilmunya Peran Aktif dalam Mencari Ulama Berkualitas Dalam usulan ini juga terdapat arah penting: “PBNU sebaiknya proaktif merekrut ulama yang memenuhi kualifikasi, meskipun bukan dari kalangan pesantren besar atau ‘darah biru’.” Artinya: kualitas didahulukan daripada garis keturunan keilmuan didahulukan daripada popularitas Sehingga jabatan tidak diisi oleh: yang sekadar dikenal atau yang sekadar memiliki jaringan Tetapi oleh mereka yang benar-benar ahli dalam fiqih madzhab Syafi’i. Tanggung Jawab Personal: Ngaji lan Nyiapno Diri Bagi yang ingin masuk dalam jajaran Syuriah: “Harus mempersiapkan diri dengan membaca dan mengkhatamkan kitab sesuai levelnya, serta membuat review sebagai bukti pemahaman.” Ini menjadi ukuran: bukan sekadar pernah belajar tetapi benar-benar memahami isi kitab Aplikasi di Tengah Jam’iyyah Guru kita, KH Masda Andi, menegaskan dengan sangat tegas: “Jam’iyyah sing ngakune NU yo kudu ngunu kuwi… penceramah kudu nggowo kitab.” Lan dawuh sing nggetarke: “Sing gak nggowo kitab, minggir… gak usah ceramah.” Iki peringatan keras: ceramah tanpa dasar kitab → rawan nggedabrus omongan tanpa ilmu → ora ana manfaat lan ora ana barokah Utamane kanggo jam’iyyahan rutin: kudu dijaga kualitas ilmuné kudu ana rujukan kitab sing jelas Penutup Iki dudu mung gagasan, nanging arah perbaikan: supaya ilmu dadi pondasi supaya ulama nduweni wibawa supaya umat entuk manfaat lan barokah Mugi-mugi kita sedaya diparingi kekuatan: kanggo ngaji kanthi tenanan kanggo ngamal kanthi bener lan kanggo njaga sanad ilmu nganti tekan generasi sabanjure Aamiin.

11 Apr 2026 • Admin

Eling lan Tuntunan: Antara Ilmu lan Amal

Kematian semakin mendekat kepada kita. Eling-eling niki… “Temen awak dewek matine wis cedek banget…” Kesadaran ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangunkan hati agar tidak lalai dalam menjalani hidup. Semangat dalam Jalan Ngaji lan Ngamal Meskipun usia dan keadaan terasa terbatas, tetap niatkan untuk ikut dalam majelis kebaikan: “Semangat niati nderek pembukaan Jam’iyyah Al Ashkhabiyyah, masio umure gak nutut nganti malam Sabtu.” Yang dilihat bukan panjangnya waktu, tetapi kesungguhan hati. Ilmu vs Amal: Mana yang Didahulukan? Guru kita dawuh dengan tegas: “Ilmu kuwi nomer loro, nomer siji amal… tapi ilmu kudu didisikno tinimbang amal.” Ini bukan pertentangan, tetapi penempatan yang tepat. Penjelasannya: Amal adalah tujuan Ilmu adalah penuntun Maka: Ilmu tanpa amal → kurang sempurna Amal tanpa ilmu → tidak diterima Sebagaimana dawuh beliau: “Ilmu tok tetep diterima masio durung sanggup nglakoni, nanging amal ora diterima tanpa didasari ilmu.” Iki penting sanget. Wong sing ngamal tanpa ilmu: bisa salah niat bisa salah cara lan pungkasane ora diterima Fenomena Amal Tanpa Ilmu Beliau juga mengingatkan realita yang sering terjadi: “Akeh wong ngamal tanpa ngelmu…” Contoh sederhana dalam kehidupan: ibadah kurban zakat fitrah lan amalan lainnya Sering dilakukan, tetapi tidak semua memahami ilmunya secara benar. Maka hasilnya bisa: tidak sah atau tidak sempurna Tanda Orang yang Dikehendaki Kebaikan Dalam dawuh yang penuh harapan: “Sopo wong sing dikarepno apik Allah nang dunya akhirate, bakal dipermudah dalam memahami agama.” Ini sejalan dengan hadits Nabi ﷺ: “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan dipahamkan dalam agama.” Artinya: semangat ngaji adalah tanda kebaikan kemudahan memahami agama adalah anugerah besar Doa: Harapan Seorang Hamba “Ya Robb, jadikanlah kami semua termasuk golongan yang dikehendaki khoir fid dini wad dunya hattal akhiroh. Aamiin.” Ini adalah doa agar: baik dalam agama baik dalam dunia dan baik hingga akhirat Munajat yang Penuh Kerendahan Dawuh yang sangat menyentuh dari Abah Masda Andi: “Sebusuk apapun aku Ya Allah…mohon jangan libatkan orang tuaku dalam dosaku.Tapi sekecil apapun kebaikanku…mohon beri juga orang tuaku pahalanya Ya Robb…Bismillah nawaitu…” Ini adalah puncak adab seorang hamba: mengakui dosa tanpa membela diri menjaga orang tua dari akibat keburukan menghadiahkan kebaikan kepada mereka Penutup Hidup ini singkat, kematian dekat, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Maka: kuatkan niat perbanyak ngaji seimbangkan dengan wirid dan amal Semoga kita semua termasuk golongan yang: diberi ilmu yang manfaat diberi amal yang diterima dan dipungkasi dengan khusnul khotimah Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

11 Apr 2026 • Admin

Petikan Dawuh Guru: Laku, Wirid, dan Ngaji

Guru kita dawuh: “Nek duwe hajat kok dirasa sangat mustahil, maka lakukan amalan utawa riyadloh sing akeh wong angel nindakake.” Iki sing diarani laku khoriqul ‘adah — usaha sing metu saka kebiasaan umum, ngelawan rasa males lan keterbatasan diri, minangka bukti kesungguhan ing ngarsane Allah. Ana maneh pesen ingkang asring ketinggalan, nanging sejatiné penting banget: “Peksonen awakmu cung ben gelem wirid yo ben gelem ngaji, mergo wong sing kuat agamane kui naliko ngaji karo diimbangi wirid. Lah nek mung ilmu, iblis kuwi yo akeh ilmuné, mergo sing nasarke wong sak alam sunyo kuwi yo iblis.” Dawuh iki ngandhut peringatan sing jero: Ilmu tanpa wirid bisa dadi kering lan ora nuntun Wirid tanpa ilmu bisa dadi ora terarah Keduane kudu nyawiji dadi siji laku Ngaji nuntun arah, wirid nguatke hati. Maka penting bagi seorang salik untuk menjaga amalan yang jelas sanadnya: “Wirido sing bersanad, pasti muttasil.” Alhamdulillah, Majlis Dzikir wa Ta’lim Al Ashkabiyyah, sedaya wiridipun sampun bersanad lan saged dipertanggungjawabkan, dunya lan akhirat. Mugi-mugi kanthi gandolan poro masyayikh, kita sedaya dipun paringi pungkasan ingkang sae: KHUSNUL KHOTIMAH. Aamiin.

11 Apr 2026 • Admin

Hakikat Kedekatan: Antara Mengenal Allah dan Mengenal Diri

Dalam salah satu maqolah disebutkan: “Barang siapa menyangka bahwa ia memiliki penolong yang lebih utama daripada Allah, maka sedikitlah ma’rifatnya kepada Allah.Dan barang siapa menyangka bahwa ia memiliki musuh yang lebih berbahaya daripada nafsunya, maka sedikitlah ma’rifatnya kepada dirinya sendiri.” Ungkapan ini sejalan dengan jalan para ulama tasawuf seperti Imam Junaid al-Baghdadi, yang menempatkan ma’rifat sebagai inti perjalanan seorang hamba. 1. Ketika Allah Tidak Lagi Menjadi Satu-Satunya Sandaran Guru kita, KH Masda Andi, mengingatkan: “Barang siapa menyangka bahwa ada penolong yang lebih mumpuni dibanding Allah, maka orang itu baru sedikit mengenal Allah.” Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menggantungkan harapan pada banyak hal: harta, relasi, dan kekuatan diri. Padahal semua itu hanyalah sebab, bukan sumber. Al-Qur’an menegaskan: “Jika Allah menimpakan kesusahan kepadamu, tidak ada yang mampu menghilangkannya selain Dia.” (QS. Al-An’am: 17) Di sinilah seorang hamba mulai belajar tentang tawakkal yang hakiki: bersandar penuh kepada Allah, tanpa menggantungkan hati pada selain-Nya. 2. Nafsu: Musuh yang Paling Dekat dan Paling Halus Guru kita juga menegaskan: “Barang siapa mengira mempunyai musuh yang lebih kejam dibanding nafsunya, berarti orang itu baru sedikit mengenal dirinya sendiri, bahkan bisa jadi malah belum mengenal.” Sering kali manusia sibuk melihat musuh di luar dirinya, padahal musuh terbesar justru berada di dalam. Sebagaimana dijelaskan oleh Abu Hamid al-Ghazali, nafsu adalah sumber banyak penyimpangan. Ia halus, tersembunyi, dan sering menyamar bahkan dalam kebaikan. Maka mengenal diri bukan sekadar mengetahui siapa kita, tetapi menyadari kelemahan, kecenderungan, dan tipu daya nafsu yang selalu menyertai. 3. Perubahan Arah Ibadah: Dari Meminta Menuju Menyerah Dalam penjelasan beliau, terdapat isyarat yang dalam: “Ibadah sering dipahami sebagai jalan untuk memperoleh sesuatu, namun ada tahap ketika hubungan dengan Tuhan bukan lagi sekadar meminta, melainkan mendekat dan menyerahkan diri.” Ini adalah pergeseran besar dalam perjalanan ruhani. Seorang hamba mulai beribadah bukan hanya karena ingin diberi, tetapi karena menyadari bahwa Allah memang layak untuk dimuliakan. Para ulama tasawuf menjelaskan tingkatan ibadah: ibadah karena takut ibadah karena berharap hingga ibadah karena cinta Di sinilah ibadah berubah dari sekadar permintaan menjadi penghambaan yang murni. 4. Ketika Ridha Lebih Tinggi dari Keinginan Guru kita mengisyaratkan: “Keridaan Ilahi jauh lebih berharga daripada sekadar terpenuhinya keinginan.” Pada tahap ini, hati tidak lagi memaksa takdir. Doa tetap dipanjatkan, tetapi tidak disertai kegelisahan yang menuntut. Seorang hamba belajar untuk: berharap tanpa memaksa berdoa tanpa menggugat menerima tanpa kehilangan iman Hidup menjadi lebih jernih karena hati selaras dengan kehendak-Nya. 5. Menemukan Karunia dalam Kesederhanaan Guru kita menutup dengan ungkapan yang penuh makna: “Sering kali, justru ketika manusia berhenti menuntut terlalu banyak, ia mulai menyadari betapa luasnya pemberian yang selama ini mengelilinginya.” Di sinilah mata hati mulai terbuka. Hal-hal kecil yang sering terlewat—napas, waktu, dan ketenangan—berubah menjadi nikmat yang terasa besar. Dan pada akhirnya, seorang hamba sampai pada kesadaran: “Di sinilah letak akan tahu tentang Tuhan sebagai Khaliq dan tahu tentang diri sebagai makhluq.” Penutup Perjalanan ini bukan tentang cepat atau lambat, tetapi tentang kesungguhan dalam mengenal: Allah sebagai satu-satunya tempat bersandar diri sebagai makhluk yang penuh keterbatasan Dalam bahasa sederhana: sing durung kenal, isih gumantungsing wis kenal, bakal pasrah lan tentrem Semoga tulisan ini menjadi khazanah keilmuan yang menumbuhkan iman, memperhalus hati, dan menambah rasa syukur dalam setiap keadaan.

24 Feb 2026 • Admin

Pengajian 6 Ramadhan 1447 H

Maqbaroh Mbah Ahmad Disampaikan oleh: KH. Masda Andi ADAB DOA (Bagian 3–10) Pada malam 6 Ramadhan 1447 H, di Maqbaroh Mbah Ahmad, guru kita KH. Masda Andi melanjutkan pembahasan adab doa. Beliau menegaskan bahwa doa bukan sekadar meminta, tetapi ada tata krama yang harus dijaga agar doa lebih dekat kepada ijabah. Adab Doa Nomor 3: Menghadap Kiblat Menghadap kiblat termasuk sunnah ketika berdoa. Ini menjadi dalil dan penguat amalan masyarakat yang ketika tahlilan atau doa bersama menghadap kiblat. Dalil dari riwayat sahabat: Riwayat Jabir r.a. (Menghadap Kiblat Saat Doa) Fa ata al-mauqifa fajaala bathna naqatihi al-qaswaa ila al-shakharat, wajaala habl al-musya baina yadayhi, wastakbala al-qiblata, falam yazal waqifan hatta gharabat al-syams. Terjemahan: Beliau (Nabi ﷺ) datang ke tempat wuquf, menjadikan perut untanya menghadap ke batu-batu, menjadikan jalan orang-orang di hadapannya, dan beliau menghadap kiblat. Beliau terus berdiri (berdoa) sampai matahari terbenam. Ini menunjukkan: Menghadap kiblat saat berdoa adalah sunnah. Waktu mustajab di Arafah sejak khutbah wuquf hingga maghrib, dan Nabi tidak berhenti berdoa. Dari Salman r.a. Rasulullah ﷺ bersabda: Inna rabbakum hayyun karim, yastahyi min abdihi idza rafa yadayhi ilaihi an yaruddahuma sifran. “Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup dan Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya yang mengangkat tangan untuk berdoa, lalu hamba itu pulang dengan tangan kosong.” Maknanya: Allah tidak akan menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Guru kita menegaskan akidah dalam berdoa: Doa itu pasti diterima, tetapi bentuknya berbeda: Kadang langsung diijabah. Kadang ditabung di akhirat. Kadang diganti dengan rahmat atau diampuni dosa. Dari Ibnu Abbas r.a. Kana rasulullah idza da’a dhomma kaffaihi wajaala buthunahuma mimma يلي wajhihi. Rasulullah ﷺ ketika berdoa merapatkan kedua telapak tangannya dan menjadikannya sejajar di hadapan wajahnya. Rincian Adab Nomor 3: Tidak mengeraskan suara (tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan). Mengangkat tangan dengan adab. Tidak mendongakkan pandangan ke atas. Adab Doa Nomor 4: Melunakkan Suara Berdoalah dengan suara lembut, penuh ketundukan. Allah berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut.” (QS. Al-A’raf: 55) Doa bukan pertunjukan suara, tapi bisikan hati yang penuh harap. Adab Doa Nomor 5: Tidak Dibuat-buat atau Bersajak Berlebihan Sayakunu qoumun ya’taduna fid du’a. Terjemahan: Akan datang suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa. ➡ Dalil agar doa tidak dibuat-buat, tidak dipaksakan nadanya, dan tidak berlebihan. Nabi ﷺ memperingatkan akan datang suatu kaum yang berdoa dengan dibuat-buat dan dipaksakan nadanya. Doa yang terbaik adalah: Tulus Tidak dipaksakan Tidak dibuat puitis berlebihan hingga kehilangan kekhusyukan Adab Doa Nomor 6: Merendahkan Diri & Khusnudzon Berdoalah dengan: Merasa hina dan sangat membutuhkan Allah. Penuh harap. Diselingi rasa takut (rohibah) kalau doa belum diterima. “Ud’u bilisani dzillah wal ihtiqari” Berdoalah dengan lisan kehinaan dan kebutuhan. Adab Doa Nomor 7: Yakin Akan Ijabah “Jangan lemah dalam berdoa dan yakinlah akan ijabah.” Guru menegaskan: Rahmat Allah lebih luas dari dosa kita. Jangan putus asa dari rahmat-Nya. Semangat dalam berdoa adalah tanda iman. Adab Doa Nomor 8: Mengulang Doa Tiga Kali Disunnahkan mengulang doa hingga tiga kali. Ini disebutkan oleh para ulama, termasuk dalam pembahasan adab oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin. Pengulangan menunjukkan kesungguhan dan harapan. Adab Doa Nomor 9: Membuka dengan Dzikir dan Asma Allah Jangan langsung meminta tanpa menyebut nama Allah. Awali doa dengan: Hamdalah Asma Allah Pengagungan kepada-Nya Doa tanpa pembukaan bisa seperti permintaan yang kurang sopan. Adab Doa Nomor 10: Ditutup dengan Sholawat Guru kita menegaskan dengan sangat: Allah tidak akan menangguhkan apa yang diminta seorang hamba jika doanya diawali dan diakhiri dengan sholawat. Pesan dari KH. Khakam kepada KH. Masda Andi: “Besok kalau memimpin doa, jangan sampai tidak diakhiri dengan sholawat. Karena doa itu masih menggantung antara langit dan bumi. Maka doronglah doa itu dengan sholawat.” gus hakam dengan guru kami

23 Feb 2026 • Admin

Adab Berdoa 1&2 (5 Ramadhan 1447 H)

Mengaji Kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali Pada malam ke-5 Ramadhan 1447 H, dalam pengajian yang disampaikan guru kami, dijelaskan tentang adab berdoa menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Beliau menyebutkan bahwa adab berdoa itu banyak, dan di antaranya ada 10 adab utama. Kesimpulan yang sangat dalam dan menohok hati: “Adab ora ngerti kok jalok diqobul.” (Tidak tahu adab, tapi minta dikabulkan.) Doa bukan sekadar meminta. Doa adalah ibadah, dan ibadah punya tata krama. 1️⃣ Adab Pertama: Memilih Waktu-Waktu yang Mulia (Aqot asy-Syarifah) Imam Al-Ghazali menasihatkan agar seseorang memanfaatkan waktu-waktu yang mulia untuk berdoa, karena pada waktu-waktu tersebut doa lebih dekat untuk dikabulkan. Apakah selain waktu mulia tidak boleh berdoa? Tentu boleh. Allah membuka pintu doa kapan saja. Namun, Allah juga memberi waktu-waktu khusus yang istimewa, yang disebut waktu mustajab. Di antara waktu-waktu tersebut: 🌙 Sepertiga Malam Terakhir Rasulullah ﷺ bersabda: Yanzilu Rabbuna tabaraka wa ta‘ala kulla laylatin ila as-sama ad-dunya hina yabqa tsulutsul laylil akhir, fayaqulu: Man yad‘uni fa astajiba lahu, Man yas’aluni fa u‘tiyahu, Man yastaghfiruni fa aghfira lahu. Artinya secara ringkas: “Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku maka akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku maka akan Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim) Inilah waktu yang sangat agung. Bukan sekadar sunyi, tapi langit sedang terbuka. 🌄 Hari Arafah (9 Dzulhijjah) Hari ketika jamaah haji sedang wukuf di Padang Arafah. Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai hari terbaik untuk berdoa. 🌙 Bulan Ramadhan Ramadhan adalah bulan rahmat, bulan ampunan, bulan pembebasan dari api neraka. Setiap malamnya penuh keberkahan, terlebih lagi di waktu sahur. 🕌 Hari Jumat (Sayyidul Ayyam) Hari Jumat adalah pemimpin hari-hari. Di dalamnya ada satu waktu mustajab yang tidak diketahui secara pasti, agar kita memperbanyak doa sepanjang hari itu. Pesan Guru: “Jika orang ngamal sudah tahu ilmunya, tidak akan susah orang mukmin untuk mengamalkan.” Ilmu membuat amal menjadi ringan. Tahu waktu mustajab, maka kita tidak akan menyia-nyiakannya. 2️⃣ Adab Kedua: Memanfaatkan Keadaan yang Mulia Selain waktu yang mulia, ada juga keadaan-keadaan tertentu yang membuat doa lebih dekat untuk dikabulkan. 🕌 Saat Masuk Shalat Fardu Ketika shalat fardu dimulai, pintu langit dibuka. Maka jangan hanya berdiri secara fisik, tapi hadirkan hati dan perbanyak doa dalam shalat. 📢 Waktu Antara Adzan dan Iqamah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak. Maka ketika adzan berkumandang, jangan hanya menunggu. Gunakan waktu itu untuk memohon. 🤲 Saat Sujud Rasulullah ﷺ bersabda: Aqrabu ma yakunu al-‘abdu min rabbihi wa huwa sajidun fa aktsiru ad-du‘a. Artinya: “Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.” Sujud bukan hanya gerakan. Sujud adalah puncak kehinaan diri di hadapan Allah. Di situlah doa paling mudah menembus langit. Penutup Adab berdoa bukan sekadar teori. Ia adalah tata krama seorang hamba kepada Tuhannya. Kalau kita ingin doa cepat sampai, maka perbaiki adab sebelum memperbanyak permintaan. Semoga Ramadhan ini bukan hanya bulan meminta, tetapi bulan belajar menjadi hamba yang tahu diri. Wallahu a‘lam.

Menampilkan halaman 6 dari 17 (Total 152 data)