Perkembangan teknologi Ai dan adab ilmu oleh KH masda andi
Jumat siang itu, salah satu jamaah membagikan sebuah video AI berisi doa sholawat ummi. Secara makna, pesan yang disampaikan memang baik. Namun pelafalan yang dihasilkan oleh AI terdengar kurang tepat, terutama pada makhārijul ḥurūf. Hal tersebut langsung mendapat perhatian dan teguran dari guru kami. Teguran yang bukan sekadar kritik teknis, tetapi peringatan serius tentang bahaya spiritual jika hal seperti ini diviralkan dan diamalkan tanpa ilmu. Guru kami dawuh: “ucapan gak bener ojo di viralno bahaya, mergo goegle gak pernah belajar makhorijul huruf, iku nek diamalno wong awam ucapane ngunu iso ngrusak akidah, bahayyyyya……iso gak di akui ummate Njeng Nabi” Teguran itu menohok, bukan untuk menjatuhkan teknologi, tetapi untuk menjaga kemurnian adab dalam beragama. Karena dalam Islam, lafal bukan sekadar bunyi, melainkan amanah makna dan aqidah. Kemudian beliau menutup dengan doa dan dawuh yang sangat dalam maknanya: “MENUNGSO MEMANG AKEH RENCANANE TAPI SAYANG KURANGAN DANA TERUS OPO ARTINE AKEH RENCANANE TAPI GAK DUWE DANA BECIKLAH GAK DUWE RENCANA TAPI DANA NE TURAH2…. ALLOHUMMA YA ROBBANA CUKUPONO,LUBERONO LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH.” (Refleksi Pribadi) 1. AI Tidak Punya Sanad AI belajar dari data, bukan dari guru. Ia mengenal teks, tetapi tidak mengenal adab, tidak punya sanad keilmuan, dan tidak pernah duduk di hadapan mursyid untuk belajar makhraj, sifat huruf, atau ruh sebuah doa. Dalam perkara doa dan sholawat, kesalahan satu huruf bisa menggeser makna, bahkan berpotensi merusak aqidah jika diamalkan terus-menerus oleh orang awam. 2. Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Viral Tanpa Ilmu Guru tidak melarang teknologi secara mutlak. Yang beliau ingatkan adalah “ojo di viralno” — jangan diviralkan sesuatu yang belum benar secara ilmu. Karena viral itu punya daya rusak: Orang awam mengamalkan tanpa tahu Salah ucap dianggap biasa Lama-lama yang salah terasa benar 3. Agama Ini Dijaga dengan Lisan yang Benar Islam bukan hanya niat baik, tetapi juga ucapan yang lurus. Makhorijul huruf adalah bagian dari amanah risalah Nabi ﷺ. Jika lisan rusak, dzikir rusak. Jika dzikir rusak, rasa rusak. Jika rasa rusak, arah hidup ikut rusak. 4. Penutup Guru: Tentang Rencana dan Kecukupan Dawuh terakhir guru sebenarnya menampar kesombongan manusia modern: Banyak rencana Banyak konsep Banyak teknologi tapi lupa cukup dan luber dari Allah Lebih baik: sedikit rencana tapi ditopang kecukupan dari Allah daripada banyak rencana tapi kosong dari pertolongan-Nya Doa beliau bukan sekadar ekonomi, tapi tauhid ketergantungan: cukupono, luberono cukupkan iman kami, limpahkan berkah-Mu dalam naungan LAA ILAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH Penutup Tulisan ini bukan untuk menolak zaman, tetapi untuk menjaga adab di tengah kemajuan. Karena tidak semua yang canggih itu selamat, dan tidak semua yang viral itu benar. Ilmu tetap harus bersanad. Dzikir tetap harus beradab. Dan lisan tetap harus dijaga.