WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

01 Jan 2026 • Admin

Teguran untuk sang pendosa (Jejak Mimpi dan Isyarat Cinta dari Langit)

Aku yakin, tapi tak berani memastikan, sebab pemahamanku masih terbatas. Semoga kelak, ilmu yang kurang ini diluruskan oleh mereka yang mengerti, agar langkahku tak tersesat. Suatu malam, sebuah mimpi menghampiriku. Aku melihat nenek dari jalur ayah, yang dahulu mengikuti majlis Senenan—sebuah majlis thariqah. Wajahnya bersinar, penuh kegembiraan, saat melangkah dari jalan depan rumah. “Mau ke mana, Yut?” tanyaku. Dengan senyum yang tak biasa, beliau menjawab, “Melu masmu, ng jamiyah.” Aku terbangun, merenungi isyarat yang hadir dalam tidurku. Lalu kususun takwilku sendiri—mungkin, setiap ahli kubur berbahagia jika ada anak-cucunya yang mengikuti jejak kebaikan. Seperti Ashhabiyah, mereka yang berpegang pada warisan spiritual leluhur, tak hanya menjadi pelita bagi dirinya, tapi juga penerang bagi yang telah pergi. Mimpi Kedua: Kemarahan Kakek dan Teguran dari Alam Lain Aku pernah berselisih dengan kakakku, saudara kandungku sendiri. Pertengkaran itu seolah biasa, tak ada yang istimewa. Tapi malam itu, kakek datang dalam mimpiku. Wajahnya penuh amarah, nadanya tegas. “Ikuti kakakmu! Minta maaf!” katanya. Kutatap mimpi itu dalam-dalam, dan kusadari maknanya: bukan hanya ahli kubur yang menyukai anak-cucunya yang dekat dengan majlis, tapi mereka juga membela dan menjaga. Betapa celakanya aku jika berani memusuhi mereka yang mendapat cinta dan doa dari orang-orang suci yang telah tiada. Mimpi Ketiga: Hati yang Mati dan Isyarat untuk Kembali Ada masa dalam hidupku di mana aku tersesat. Seorang perempuan yang terlalu kucintai membuat langkahku guncang. Aku marah—pada takdir, pada Tuhan. Munajatku terputus, doaku terhenti. Aku bahkan berhenti menghadiri majlis yang dulu sering kudatangi. Hari-hari berlalu, enam bulan lebih aku membiarkan diriku tenggelam. Aku menjadi seseorang yang tak bisa dinasihati. Dzikir tak lagi menggetarkan hati, ayat-ayat suci berlalu tanpa makna. Sholat kutinggalkan tanpa rasa sesal. Saat itu, aku sadar: hatiku telah mati. Lalu, datanglah mimpi itu. Aku berada di depan majlis, tapi sebelum masuk, aku dihadang oleh Mas Agus dan Mas Siwa. Mereka membawakanku makanan dan kopi, menyuruhku duduk di luar. Aku mencoba menceritakan mimpi ini kepada paman, dan ia menakwilkannya: hatiku belum siap untuk kembali. Bulan-bulan berlalu, aku mengingat mimpi itu lagi. Kurenungkan lebih dalam, dan kusadari bahwa takwilnya bukan seperti yang kuduga. Mimpi itu bukan sekadar memberitahuku bahwa aku belum siap— arti mimpi itu adalah memanggilku kembali. Mimpi itu mengajarkanku bahwa meskipun hatiku telah mati,  meskipun aku tak mampu lagi berdiri di dalam majlis, aku masih bisa duduk di serambinya. Aku masih bisa bersilaturahmi, meski hanya sebagai tamu yang asing. Dan bahkan dalam keterasinganku, aku tetap mendapat bagian—segelas kopi, sepotong jajanan. Saat itu, hatiku menangis. Ada yang mengetuk, ada yang mengajak pulang. Dan di sanalah aku kembali, menapaki jejak yang hampir kutinggalkan. Sekarang ketakutanku hari ini, setelah aku hadir di majlis ini *“Apakah aku hanya mencintai majlis ini saat deritaku memuncak? Lalu saat lega menjelang, apakah cintaku kan retak? Ataukah aku kan berubah, menjauh dan menolak, Jika ujian tak surut, malah kian menyesak? Oh Tuhanku, jangan biarkan hatiku berbalik dan berjarak. Beri aku cinta yang murni, yang takkan retak. Agar aku tetap teguh, tak goyah dan tak goyak, Istiqomah dalam lautan cinta, selamanya melekat.”*

Menampilkan halaman 2 dari 2 (Total 10 data)