WARTA & ARTIKEL DAKWAH

Kumpulan Tulisan, Berita Kegiatan & Catatan Ilmu

Menghimpun risalah hikmah, pengumuman jadwal istighosah, dan dokumentasi khidmah majlis Al-Ashkhabiyyah.

26 Jan 2026 • Admin

Menemukan Aib dari Dawuh guruku

Bukan tentang ramai-ramai amal, bukan tentang siapa terlihat paling sibuk di jalan Allah, tetapi tentang jujur menghadapkan diri kepada-Nya. Bagaimana mungkin aku meminta kaya, sedang hidupku sendiri masih gemar bergelimang gemerlap. Bagaimana mungkin aku berdoa diluaskan rezeki, namun hatiku tak pernah merasa cukup. Apakah pantas aku bersedekah berlebih di jalan Allah, sementara dalam doa aku mengadu kekurangan di hadapan-Nya? Apakah pantas aku mengeluh, jika nikmat-nikmat kecil saja tak pernah benar-benar aku syukuri? Betapa munafiknya aku. Saat melakukan amaliah, hatiku diam-diam menunggu balasan. Saat berkhidmah, aku berharap dicatat. Saat bersungguh-sungguh, aku ingin diperhatikan. Aku berlindung di keramba al-wilayah, bernaung di bawah atap ashkhabiyyah, namun jiwaku masih sibuk mencari pengakuan manusia. Saat aku beramal, aku berharap pandangan guruku tertuju kepadaku. Betapa munafiknya aku. Maka di hadapan tulisan guruku, aku tak menemukan apa-apa selain aibku sendiri. Yang kuminta kini bukanlah balasan amal, bukan pula pujian atau pengakuan, melainkan kejujuran hati agar amal tak lagi menjadi topeng, dan ibadah tak lagi menjadi transaksi. Ya Allah, jika Engkau belum menerima amalku, cukup jangan Engkau cabut rasa malu ini dari hatiku.

13 Jan 2026 • Admin

Ilmu sebagai Amanat, Murid sebagai Cermin

Dalam perjalanan suluk, ada satu kesadaran yang tidak datang dari buku, tidak pula dari lisan manusia, melainkan dari getaran batin: ilmu bukanlah milik, melainkan titipan. Dan setiap titipan adalah amanat, sementara amanat menuntut penjagaan yang tidak ringan. Seorang murid boleh saja pulang dari majelis, boleh keluar dari ruang talaqqi, boleh masuk ke masa liburan—namun ia tidak pernah keluar dari pandangan adab. Karena yang dijaga bukan sekadar hafalan, melainkan keadaan hati. Aku merenung pada dawuh guru yang masih terngiang jelas, bukan sebagai perintah biasa, tetapi sebagai wasiat ruhani: “cekelen iki… eling2en iki…. kanggo bahan latihan selama liburan sak wise penutupan……. saate terjun nang tengah2 ummat…..” Dawuh ini tidak hanya memerintahkan untuk mengingat, tetapi mencekal batin agar tidak lepas kendali saat berada di tengah umat. Sebab di situlah ujian sesungguhnya bermula: bukan di khalwat, tetapi di keramaian; bukan di wirid, tetapi di interaksi; bukan saat tunduk, tetapi saat dipandang. Apakah Guru Merasakan Ketika Murid Keluar Jalur? Pertanyaan ini lahir bukan dari rasa takut yang dangkal, tetapi dari kesadaran akan ikatan ruhani antara guru dan murid. Dalam tradisi ruhani, hubungan ini bukan hubungan administratif, melainkan hubungan amanah dan silsilah batin. Seorang guru bukan sekadar pengajar, ia adalah penanggung jawab ruhani. Maka ketika seorang murid berbuat buruk dengan membawa-bawa ilmu, nama, atau isyarat gurunya, keburukan itu tidak berhenti pada diri murid. Ia mengalir, seperti asap, menuju sumber cahaya yang ia klaim sebagai sandaran. Bukan berarti guru menanggung dosa murid, tetapi getaran perbuatan murid mempengaruhi medan ruhani yang pernah disentuh guru. Inilah mengapa para masyayikh sangat takut melepas murid sebelum adabnya kokoh, meski ilmunya telah cukup. Racun Halus Bernama “Merasa” Di sinilah letak bahaya yang paling sunyi. Bukan maksiat yang kasat mata, bukan pelanggaran syariat yang jelas, melainkan racun halus dalam diri manusia: merasa lebih tinggi, memandang rendah, merasa paling benar, paling suci, paling mengerti. Ia tidak bersuara, tidak berbau, tidak tampak—tetapi menggerogoti maqam dari dalam. Banyak salik jatuh bukan karena kurang ibadah, tetapi karena tertipu oleh bayangan dirinya sendiri. Dalam kitab-kitab tasawuf disebutkan, ujub sering menyamar sebagai syukur dan istiqamah. Padahal, ketika hati mulai sibuk mengukur diri dan orang lain, di situlah nafsu mengambil alih kemudi. Imbas Murid dan Tanggung Jawab Guru Pemahaman ini mengguncang batinku: jika seorang murid membuat ulah yang buruk di luar dengan membawa-bawa ilmu dari gurunya, maka dampak keburukan itu akan dirasakan pula oleh sang guru. Maka sungguh tidak ringan menjadi murid. Setiap gerak adalah cermin. Setiap ucapan adalah representasi. Setiap sikap bisa menjadi hujjah—entah untuk kebenaran, atau untuk fitnah. Karena itu para salik sejati selalu berdoa bukan agar cepat naik maqam, tetapi agar tidak mempermalukan gurunya di hadapan Allah. Antara Nafsu dan Pertolongan Allah Dalam perenungan yang panjang, satu hukum ruhani menjadi jelas: Setinggi apa pun pencapaian thariqah seorang murid, ia akan dibuat tersesat jika mengikuti keinginan nafsunya. Dan serendah apa pun kedudukan rohaninya, ia akan ditolong Allah untuk naik jika ia jujur memerangi hawa nafsunya. Allah tidak menilai klaim, tetapi perjuangan batin. Allah tidak melihat maqam yang disebut, tetapi nafsu yang ditundukkan. Maka keselamatan bukan pada “sudah sampai mana”, melainkan pada siapa yang masih dijadikan musuh: nafsu atau ego. Penutup: Menjaga Ilmu dengan Diam dan Rendah Seorang salik sejati lebih takut pada hilangnya adab daripada tertinggalnya wirid. Ia lebih memilih disangka bodoh daripada merasa pintar. Ia lebih senang direndahkan manusia daripada ditinggikan nafsunya. Karena ia tahu: ilmu yang tidak dijaga adabnya akan menjadi hijab, dan ilmu yang dijaga dengan rendah hati akan menjadi jalan pulang. Semoga Allah menjaga para guru kita dari imbas kelalaian murid-muridnya. Dan semoga kita dijadikan murid yang lebih banyak menunduk daripada berbicara, lebih sibuk memperbaiki diri daripada menilai orang lain. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 7 (Pemahaman dari Mengamati Guru Saat Sholat Jumat)

Saat sholat Jumat, kebetulan aku berada tepat di belakang shaf guruku. Ketika iqomah berkumandang, aku memperhatikan sesuatu yang berbeda. Kenapa beliau belum berdiri? Jamaah lain sudah ada yang berdiri di awal iqomah, sebagian lagi di tengah-tengah iqomah, tapi guruku tetap duduk hingga iqomah selesai. Aku bertanya dalam hati: “Apakah ada doa khusus sebelum berdiri setelah iqomah? Apakah beliau sedang membaca doa tertentu?” Tiba-tiba, muncul pemahaman dari dalam hatiku. Kali ini bukan seperti bisikan batin biasanya, tapi langsung terasa dalam hati: “Perhatikan gurumu. Saat beliau berdiri, pejamkan matamu dan rasakan dengan hatimu.” Ketika iqomah selesai, beliau baru berdiri, dan saat itu juga hembusan angin lembut terasa di dalam masjid. Aku bertanya dalam hati: “Apakah ini karena doa atau adab beliau, sampai-sampai alam seolah merestui?” Jawaban dari dalam hatiku muncul: “Bukan karena doa atau adab beliau, tapi ketahuilah… Saat iqomah dikumandangkan dalam sholat Jumat, ada malaikat yang berdiri di depan imaman depan masjid, dia membawa catatan besar, untuk mencatat siapa saja yang hadir dalam sholat Jumat. Ketika iqomah selesai, malaikat itu pergi terbang meninggalkan masjid.” “Hembusan angin yang kau rasakan itu bukan sekadar angin biasa, tetapi karena malaikat itu terbang dengan sayapnya yang begitu besar.” Baru aku sadar guruku sedang mengajari aku pemahaman lainya

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 6 Cahaya di Balik Sedekah Beras (29 romado 1446H)

Di sebuah majlis yang penuh berkah, tuan guru kami mendapat petunjuk agar majlis ini semakin berkembang. Salah satu ikhtiarnya adalah dengan bersedekah beras 5 kg. Setiap anggota jamiyah diminta membawa beras sebagai wujud keikhlasan. Saat daftar nama dibacakan, aku bersyukur namaku tidak tercantum dalam daftar utama. Bukan karena tidak ingin bersedekah, tetapi aku merasa masih anggota baru dan khawatir timbul kesombongan dalam hatiku jika namaku disebut. Malam itu, majlis mengadakan riyadhoh, memanjatkan doa agar sedekah yang dikumpulkan menjadi jalan kebaikan bagi seluruh anggota. Saat guru kami menyentuh beras yang telah dikumpulkan, aku melihat sesuatu yang luar biasa. Lima cahaya muncul, masing-masing melambangkan nikmat yang akan membantu para anggota menemukan jalan hidup mereka: 1. Cahaya putih  2. Cahaya kuning  3. Cahaya hijau  4. Cahaya coklat (biru) 5. Cahaya merah  Saat itu, aku menyadari bahwa setiap orang membutuhkan salah satu dari lima nikmat ini untuk menemukan kebenaran dalam hidupnya. Tiba-tiba, suara berbisik di batinku memberitahuku bahwa malaikat akan datang. Seketika, aku mengirimkan Al-Fatihah untuk beliau. Aku mendengar suara batin yang mengatakan malaikat turun dari langit, tidak menyentuh tanah, tetapi bertengger di dedaunan, menyaksikan proses penulisan nasib nikmat di atas beras sedekah. Saat itu hujan turun, tetapi anehnya ketika guru kami mulai mendoakan beras, hujan menjadi rintik ringan, seolah tertahan oleh keberkahan (aku yakin itu sayap beliau), Dan begitu doa selesai, hujan kembali turun agak deras. Kemudian, Ustadz Bahrul Ulum membacakan Surah Al-Bayyinah. Wajah malaikat tampak gembira sebelum beliau kembali ke langit. Setelah itu, para anggota melanjutkan wirid, dan aku merasakan seakan penduduk langit mengamini riyadhoh kami. Acara pun ditutup dengan bacaan Ya Dzal Jalali wal Ikram, penduduk bumi seakan mengamini riyadoh kami, dan seluruh majlis penuh dengan keberkahan. Namun, ada satu hal yang membuatku gelisah. Aku mulai bertanya-tanya: Nikmat apa yang tertulis pada berasku? Jika itu nikmat dunia seperti harta, aku bisa membalasnya dengan lebih banyak sedekah untuk majlis. Tapi bagaimana jika itu nikmat iman? Atau nikmat keluarga? Atau nikmat waktu? Apa yang bisa aku berikan sebagai balasan? Malam itu, aku merenung. Aku sadar bahwa setiap nikmat yang Allah berikan adalah amanah. Dan ketika kita mendapatkannya, kita harus mencari cara untuk mensyukurinya dengan sebaik mungkin.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 5 (Makna Berdoa Menghadap Bulan)

Pada malam ke-13, wirid ditutup dengan doa menghadap bulan: “Allahumma sumber dunia, dalilnya lafadz Rahama, malaikat Qasim, Nabi Sulaiman, gedungnya Allah, kuncinya Rasulullah, Laa ilaha illallah.” Saat aku melafalkan doa ini, tiba-tiba ada suara dalam batinku yang menggerutu: “Ada orang yang membaca doa ini sambil berpikir ingin meminta sesuatu dari bulan. Wah, celaka! Tapi untungnya, doa ini diakhiri dengan kalimat Laa ilaha illallah. Semoga mereka paham dan tetap selamat dalam keimanan.” Aku pun bertanya dalam hati: “Apa sebenarnya maksud dari doa menghadap bulan ini?” Lalu batinku menjawab: “Ketahuilah, menghadap bulan itu bukan untuk menyembah bulan, tetapi sebagai pengingat akan sifat Rahim Allah.” • Matahari melambangkan sifat Rahman Allah (kasih sayang-Nya yang diberikan kepada semua makhluk, baik mukmin maupun kafir). • Sedangkan bulan melambangkan sifat Rahim Allah (kasih sayang-Nya yang khusus untuk orang-orang beriman). Kemudian, makna dari doa ini semakin jelas: • “Dalil lafadz Rahman” → Menjelaskan bahwa sifat Rahim Allah hanya diberikan kepada orang mukmin. • “Malaikat Qasim” → Malaikat yang bertugas membagi rezeki, khusus untuk orang mukmin. • “Seperti raja dunia, Nabi Sulaiman” → Sebagai simbol kekuasaan dan rezeki yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. • “Allah adalah pemilik doa ini” → Doa ini berasal dari kasih sayang Allah kepada Nabi Muhammad. Jadi, berdoa menghadap bulan bukan berarti meminta kepada bulan, tetapi sebagai pengingat bahwa Allah memiliki kasih sayang khusus bagi orang-orang beriman.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan sang pendosa 4 (Pemahaman tentang Kun Fayakun dalam Dzikir Nafas)

Pemahaman ini datang tiba-tiba dalam batinku, setelah pengajian selesai, saat aku hendak beristirahat. Dalam kondisi hampir tertidur, aku seakan teringat kembali suasana majlis tadi. Tiba-tiba, ada suara pemahaman yang menghampiri dan memberitahuku bahwa ada seseorang yang sedang mencari makna Kun Fayakun dari Tuhan. Aku bertanya dalam hati: “Kenapa kamu memberitahuku? Aku tidak mau tahu urusan orang lain.” Batin itu menjawab: “Ini ada hubungannya dengan pemahamanmu tentang dzikir nafas—tentang keluar dan masuknya nafas.” Hu Allah • Hu (saat menarik nafas) • Allah (saat menghembuskan nafas) “Tidak ada kehendak Tuhan dan diriku sendiri.” “Tidak ada wujud yang tampak dalam hembusan nafas ini, kecuali wujud Allah.” Kemudian, pemahaman itu berbalik arah: • Hu (saat menghembuskan nafas) • Allah (saat menarik nafas) “Tidak ada wujudku, kecuali Allah.” “Tidak ada kehendakku, kecuali kehendak Allah.” Dari sinilah aku mulai memahami bahwa kehendak manusia sebenarnya sudah termasuk dalam kehendak Allah—itulah makna Kun Fayakun. Kuncinya ada di tengah nafas. Untuk menemukan kunci ini, seseorang harus memahami 12 sifat manusia. 12 sifat kelahiran dan 12 sifat kematian

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan sang pendosa bagian 3 (Bisikan di Malam 22 Ramadhan)

Malam itu, pada tanggal 22 Ramadhan, aku tidak ikut pengajian di makam Sohibul Karomah, Mbah Ahmad, bersama Majlis Ashabiyah. Ada uzur yang membuatku harus lebih mendahulukan urusan usahaku. Saat tertidur, di antara keadaan sadar dan tidak, hatiku tiba-tiba berbicara seakan menegur, “Lapo gak melu ngaji?” (Kenapa tidak ikut ngaji?). Seakan ada tabir yang terbuka, memperlihatkan sesuatu tentang majlis yang selama ini aku ikuti. Dalam penglihatan itu, aku melihat sebuah masjid besar dengan 12 anak tangga besar. Di depannya, berkibar sebuah bendera setengah tiang. Aku berdiri tepat di bawahnya, ingin mencoba menaikkan bendera itu lebih tinggi. Namun, sebuah suara membimbingku, “Ojo sek, nenggo Putra Kinasih” (Jangan dulu, tunggulah Putra Kinasih). Aku pun mengangguk dan diam. Kemudian, suara itu mulai menceritakan tentang Majlis Ashabiyah. “Ada delapan tingkatan majlis,” katanya. Majlis Ashabiyah berada di tingkatan kelima—bukan yang tertinggi, tetapi juga bukan yang terendah. Setiap tingkatan memiliki beberapa majlis yang serupa, dan ketahuilah semua pada dasarnya satu, majlis qolbu bisa dengan mudah memlelajari majlis dibawahnya dan majlis dibawah majlis qolbu tidak bisa mempelajari majlis diatasnya sebelum mempelajari qolbu. (Begitu uraian kalimat yang saya tangkap) Aku penasaran dan bertanya, “Lalu, tingkat pertama itu apa?” Suara itu menjawab, “Tingkat pertama adalah majlis Dzat Allah, yang langsung dibimbing oleh Jeng Nabi.” Aku bertanya lagi, “Kalau Majlis Dalail berada di tingkat berapa?” “Tingkat keenam,” jawab suara itu. Aku heran dan bertanya lagi, “Mengapa Ashabiyah lebih tinggi, padahal anggota Dalail jauh lebih banyak?” Suara itu menjawab, “Ashabiyah adalah majlis yang bersifat qolbu, hanya ada 12 majlis serupa di seluruh dunia. Sedangkan Dalail adalah majlis dunia yang jumlahnya lebih banyak.” Aku termenung, menyadari betapa tingginya kedudukan majlis ini… Suara itu terus berbicara, menjelaskan lebih banyak, tetapi aku tidak bisa menangkap semuanya karena harus bersiap makan sahur. Meski begitu, suara batin itu terus melanjutkan penjelasannya… Keesokan paginya, aku dikejutkan oleh kabar dari guruku. Ia memintaku untuk ikut majlis pada malam 23 Ramadhan. Aku memberanikan diri untuk menceritakan tentang bisikan yang kudengar tadi malam. Namun, yang lebih mengejutkan—guruku membenarkan apa yang aku alami. Aku sempat khawatir, takut jika yang kudengar hanyalah bisikan nafsu belaka. Aku takut tersesat lagi. Namun, di sisi lain, aku berharap ini adalah petunjuk agar hatiku semakin bersih. Semoga Allah menjagaku dari sifat sombong dan selalu membimbingku di jalan yang benar.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 2 (Pemahaman tentang Dzikir Cepat)

Saat mengikuti dzikir Ramadan, aku terkejut ketika guru membaca “Allahumma syafi’il Khalqi wa ‘ala alaih” sebanyak 1.500 kali dalam waktu sekitar 1 jam. Aku pun mencoba menghitung. Jika dzikir itu harus dibaca sebanyak itu dalam satu jam, berarti setiap bacaan hanya punya waktu sekitar 2 detik. Aku sudah mengikuti dzikir ini empat kali, tetapi tidak pernah berhasil menyelesaikannya. Aku mulai ragu, “Apakah guruku benar-benar bisa menyelesaikan dzikir ini?” Saat itu, tiba-tiba ada suara dalam batinku yang menegur: “Tahukah kamu? Ahli dzikir itu ada tingkatannya. Jika seseorang sudah sampai pada tingkatan membuka titik-titik dzikir dalam tubuhnya, maka titik-titik itu yang akan melafalkan wirid tersebut.” “Sadarkah kamu? Tasbih itu sebenarnya hanya sebagai alat untuk menghitung bagi orang yang masih dalam tahap awal dzikir.” “Bagi ahli dzikir sejati, pelafalan dzikir bukan hanya terjadi di pikiran, hati, atau lisan, tetapi seluruh titik dalam tubuh ikut berzikir. Itu sebabnya mereka bisa membaca dzikir dengan cepat tanpa kehilangan maknanya.” Dari situ, aku mulai memahami bahwa dzikir bukan hanya soal seberapa cepat kita membaca, tetapi bagaimana dzikir itu menyatu dengan diri kita.

01 Jan 2026 • Admin

Perjalanan ruhani sang pendosa 1 (Pemahaman Titik Huruf “Ya” dalam Dzikir Ramadan)

Saat pertama kali mengikuti dzikir Ramadan, aku tahu bacaan yang harus dibaca. Tapi dalam hati, aku hanya ingin ketenangan. Aku pun memutuskan untuk tidak ikut melafalkan dzikir dan memilih untuk merenung, sementara semua jamaah tetap membaca dzikir dengan suara lantang. Tiba-tiba, ada suara dalam batinku yang berbisik: “Kenapa kamu sibuk mencari titik pada huruf ‘Ba’? Kenapa tidak belajar memahami titik pada huruf ‘Ya’?” “Bopomu (gurumu) sedang berwirid agar kamu bisa memahami titik pada huruf ‘Ya’.” Aku bertanya dalam hati: “Wirid yang mana?” Suara batin itu menjawab: “Bopomu mengawali wirid dengan bacaan Yaa Khayyuu… Yaa Khayyuu. Apakah kamu tahu makna huruf ‘Ya’ dalam bacaan itu?” Aku menjawab dengan tegas: “Tidak!” Lalu suara itu menjelaskan: “Huruf ‘Ya’ dalam wirid itu maksudnya, bopomu sedang menyambungkan hatimu dengan Nur Ahmad dan Muhammad. Perhatikan titik pada huruf ‘Ya’, itu adalah simbol dari Ahmad dan Muhammad. Bopomu sedang menghidupkan hatimu agar tersambung dengan dua titik itu, supaya jalanmu tidak keliru.” Dari situ, aku mulai memahami bahwa dzikir bukan hanya soal melafalkan bacaan, tapi juga tentang menyambungkan hati dan memahami makna yang lebih dalam.

Menampilkan halaman 1 dari 2 (Total 10 data)